Panggilan Pemantik Rindu

Beberapa hari yang lalu ibu menghubungiku lewat sambungan telpon sekedar bertanya kabar. Lantas seperti biasa, ia bercerita soal kucingku si Hitam yang semakin pintar menyelinap masuk kerumah dari jendela. Atau tentang si Coklat yang tetap menantiku pulang saban malam di muka pintu gudang. Saat itu ibu juga terkekeh sendiri saat memberitahu bagaimana menggemaskannya rupa Aira, anak pamanku, saat menggigit sepotong jeruk nipis tanpa sepengetahuan ibunya. Saat itu Aira yang baru saja bisa berjalan meraih jeruk nipis di dapur lantas membawanya kabur ke ruang tengah, tempat ibuku sedang duduk mengadon bahan kue.

Lewat sambungan telepon itu ibu juga mengabarkan bahwa saat ini Banda Aceh sedang deras-derasnya diguyur hujan. Itu berarti ianya kini punya waktu lebih panjang sepanjang petang. Sekedar untuk bersantai menikmati berita sore di stasiun televisi lokal atau bermain bersama Aira kecil. Sebab ada langit yang kini menggantikan tugas menyiram tanaman hias kesayangannya. Tanaman yang selalu membuatku dimarahi ibu karena kerap alpa kusirami saat ia tak di rumah berhari-hari.

Dari grup pesan singkat, aku menjadi tahu apa yang dikatakan ibu benar adanya. Bahwa di Banda Aceh sana, sudah berhari-hari hujan turun terus. Langit menumpahkan rintik kondensasi sepanjang hari. Dan ternyata september masih seperti biasanya, masih seperti musim hujan yang lalu, meninggalkan genang di mana-mana. Dan memantik kenang di dalam benak.

Jujur saja, saat ini aku rindu hujan. Tepatnya merindukan Banda Aceh yang hujan. Yang kerap kunikmati bersama kepulan asap kopi dan rokok yang disulut tak putus-putus. Merindukan segalanya dari sini. Dari tengah-tengah kota Bandung yang masih saja kerontang sedangkan oktober sudah hampir mencapai paruh bulan. Bersama segelas kopi sachet-an dan wi-fi gratisan di sudut ruang kerja sederhana. Yang hanya berisi sepasang meja-kursi sambil menghadapi komputer jinjing yang kugunakan untuk menangkap apa saja sebelum ianya menguap dari kepala.

Rindu yang entah mengapa membuat segalanya berjalan lamban. Menghitung hari kepulangan yang sebenarnya hanya tinggal sepekan.

 

Bandung 10 Oktober 2018

salam manis

 

@senja.jingga

 

 

Tentang Ratna Sarumpaet Dibisiki Setan; Konspirasi Kuda Troya atau Fans Young Lex?

Beberapa hari belakangan nama Ratna Sarumpaet kembali menjadi bahan perbincangan. Tapi kali ini bukan karena keberaniannya beradu pendapat dengan pejabat negara seperti yang pernah viral beberapa waktu yang lalu.  Juga bukan karena kelantangan ibu dari artis cantik Atiqah Hasiholan ini bicara soal pembunuhan Marsinah pada tahun 1993 oleh rezim orde baru. Ratna Sarumpaet disebut-sebut telah dibisiki setan sehingga melakukan sesuatu yang membuat dia dan sekalian koleganya dalam tim pemenangan Prabowo – Sandi malu.

Menurut kronologi  yang beredar versi wakil ketua Timses Prabowo – Sandi, Nanik S Deyang, pada mulanya Ratna Sarumpaet bersama dua orang berkebangsaan Malaysia dan Srilangka naik taksi menuju Bandara Husein Sastranegara Bandung. Mereka bertiga baru saja menghadiri sebuah konferensi internasional di kota tersebut pada 21 September lalu. Namun saat tiba di bandara, supir taksi kemudian menurunkan mereka di tempat yang agak gelap dan sepi.

Disitulah semuanya bermula. Entah kenapa, dua kolega Ratna Sarumpaet kemudian meninggalkan dirinya sendirian dalam gelap dan sepi untuk kemudian dipukuli hingga babak belur oleh tiga orang tak dikenal. Hal tersebut membuat Ratna Sarumpaet nyaris kehilangan kesadaran akibat penganiayaan yang dialaminya. Ianya kemudian di bopong oleh seorang supir taksi dan diturunkan di tepi jalan di kawasan Cimahi.

Butuh waktu hingga 10 hari sampai Ratna mampu mengatasi trauma yang di alaminya akibat kejadian tersebut dan kembali tampil di depan khalayak. Ratna, melalui Fadli Zon, kemudian menyampaikan hal yang baru saja di alaminya itu kepada Prabowo. Dan dalam sekejap, berita tersebut menyebar di kalangan tim pemenangan Prabowo-Sandi lengkap dengan foto wajah lebam Ratna Sarumpaet.

Rasa simpati dan dukungan kemudian mengalir deras kepada Ratna. Hal ini bisa terjadi mengingat Ratna adalah salah satu elit dalam jajaran tim pemenangan Prabowo – Sandi. Ia tercatat sebagai Juru Kampanye Nasional nomor urut 42 dalam SK tim pemenangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tersebut. Tak lupa, para politisi yang berada dalam barisan ini lantas serempak mengecam sana-sini demi membela koleganya yang teraniaya ini.

Salah satunya adalah Rachel Maryam. Melalui akun Twitternya @cumarachel, mantan selebriti yang kini meniti karir sebagai politisi ini mengecam pelaku yang (katanya) menganiaya Ratna.

Innalillahi bunda @RatnaSpaet semalam dipukuli sekelompok orang. Saat ini keadaan babak belur. Hei kalian beraninya sama ibu2! Apa kalian gak punya ibu? Lahir dari apa kalian?” tulis Rachel Maryam pada Senin, 1 Oktober lalu.

Dibisiki Setan

Selang sehari setelah beredar kabar penganiayaan dirinya, Ratna Sarumpaet mengaku bahwa lebam di sekujur wajahnya adalah karena bedah plastik yang dia jalani. Ianya membantah sendiri kabar penganiayaan yang dia alami dan mengatakan kabar tersebut adalah sebuah kebohongan belaka.

“Hanya cerita khayal. entah diberikan setan  mana yang dibisikkan ke saya dan berkembang seperti itu,” Ujar Ratna kepada awak media.

Sontak pengakuan Ratna tersebut membuat kaget sekalian orang. Bahkan Prabowo sendiri merasa harus menggelar jumpa pers untuk meminta maaf kepada rakyat Indonesia soal kebohongan yang dilakukan Ratna. Prabowo mengaku mempercayai apa yang dikatakan Ratna sebab ia mengenal sosok tersebut selama ini getol memperjuangkan hak-hak rakyat kecil.

“Di depan rakyat Indonesia saya minta maaf. Tapi Saya tidak merasa saya berbuat salah, bahwa Saya akui, bahwa saya agak grusak grusuk,” Tutur calon presiden dari Partai Gerindra itu.

Begitupula dengan Rachel Maryam. Setelah sehari sebelumnya sempat menulis cuitan yang mengecam pelaku penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet, Rachel kemudian kembali mencuitkan permohonan maaf terkait hal tersebut. “Innalillah wa inna ilaihi rojiun. Sandiwara apa ini?,” Cuitnya.

Siasat Kuda Troya

Memperhatikan perkembangan kabar hoax terkait Ratna Sarumpaet ini, saya menjadi ingat kisah tentang kuda troya. Itu adalah cerita tentang penaklukan kota Troya oleh tentara Yunani. Konon kota Troya telah 10 tahun dikepung namun tak kunjung bisa di taklukkan. Hingga akhirnya pasukan Yunani membangun patung kuda raksasa dari bahan kayu. Dan di dalam patung kuda raksasa tersebut, beberapa pasukan Yunani bersembunyi. Sedangkan sebagian lainnya berpura-pura berlayar pulang ke negeri asalnya.

Para penduduk Troya yang merasa telah menang perang kemudian menarik kuda kayu tersebut kedalam kota. Hingga pada tengah malam saat penduduk Troya sedang dibuai mimpi, para tentara Yunani itu kemudian menyelinap keluar dari patung kuda lantas membuka gerbang kota Troya. Hal itulah yang kemudian membuat kota Troya berhasil di taklukkan.

Kenapa saya kemudian mengaikan kabar hoax tersebut dengan kisah kuda Troya? Karena bagi saya adalah sesuatu yang aneh jika tokoh sekelas Ratna Sarumpaet secara sadar melakukan pembohongan publik seperti itu. Bagi saya, apa yang telah dilakukannya adalah sebuah bunuh diri politik. Pula bagi orang-orang yang kemudian ‘termakan’ berita palsu tersebut.

Apalagi jika mengingat seperti apa latar belakang Ratna sebagai aktivis HAM dan bagaimana sosok Prabowo Subianto dalam kacamata penegakan Hak Asasi Manusia. Maka dari itu dugaan konspirasi Kuda Troya kiranya semakin kuat adanya. Jika benar ini yang terjadi, maka saya melihat seorang Ratna Sarumpaet cukup sadar atas tindakan bunuh diri politik yang dilakukannya.

Lantas apa dampaknya? Silahkan perhatikan sendiri. Ditengah berita soal kubu petahana yang terus melakukan koordinasi penanganan gempa bumi dan tsunami di palu dan donggala, di sisi lain kubu Prabowo justru sibuk menyelamatkan muka. Soalnya hampir semua elit politik yang ada dalam barisannya turut serta menyebarkan Hoax made in bunda Ratna. Terlepas disengaja atau tidak, saya melihat apa yang dilakukan Ratna Sarumpaet merupakan sebuah pukulan telak di jantung pertahanan Koalisi Indonesia Adil dan Makmur.

Namun semua itu adalah pendapat pribadi saya. Teman-teman sekalian silahkan untuk sepakat atau berbeda pendapat dengan apa yang saya sampaikan di atas. Lagipula bisa saja apa yang dilakukan Ratna bukanlah strategi Kuda Troya, melainkan sebuah bukti bahwa ianya salah satu penggemar Young Lex. Sebab keduanya sama-sama pernah mengamalkan laku pura-pura teraniaya dihadapan warganet Indonesia. Sekali lagi, bisa saja!

Bandung, 04 Oktober 2018

 

Salam Manis

@senja.jingga

Kualitas Atau Rating, Mana Yang Lebih Penting?

Ini hari genap tiga bulan aku menapak tanah jawa. Secara durasi, kali ini adalah waktu paling lama aku di sini. Aku memilih Bandung sebagai ‘rumah’ sementara karena beberapa alasan. Salah duanya adalah soal kerjaan dan disini, aku punya beberapa kenalan. Mereka adalah orang – orang yang membuatku merasa punya keluarga baru di perantauan.

Tiga bulan berada disini, aku juga mulai berani jalan sendiri. Memang saat ini kehadiran aplikasi transportasi online sangat membantu orang-orang sepertiku. Tapi maksudku itu, aku mulai hafal beberapa jalan dan bisa mengendarai motor sendiri untuk bepergian ke berbagai tempat tanpa harus bergantung pada aplikasi peta online. Meski sesekali harus nyasar seperti kemarin saat aku menuju ke Asrama Aceh di jalan Belimbing untuk mengambil beberapa tangkai daun kari.

Selama di sini aku juga berkenalan dengan beberapa teman baru. Salah satu yang paling membekas dalam benakku adalah pertemuan dengan mereka; para penulis skenario sinetron dan Film televisi (FTV). Kebetulan hari itu aku diminta @mariska.lubis untuk menemani mereka bertemu Ayah Pidi. Jadilah aku menuju Rumah The Panasdalam siang itu untuk menunaikan janji. Yaitu janji kepada Mariska untuk menemui teman-teman penulis skenario sinetron itu tadi.

Setelah seremoni perkenalan dan sedikit basa-basi, kami akhirnya mulai berbincang ringan sambil menunggu kedatangan si Ayah. Dari kang Budi aku mendapat kabar si Ayah sedang menyelesaikan rekaman di salah satu studio di kawasan Ciwastra. Ada dua lagu yang masih harus diselesaikan katanya, dan perkiraanku itu berarti akan memakan waktu paling tidak tiga jam lamanya.

Dari teman-teman baruku – yang kebetulan semuanya berkelamin wanita –  aku mendapat gambaran seperti apa industri sinetron dan FTV itu bekerja. Mereka mengaku harus saban minggu menyetorkan minimal dua sinopsis cerita pada hari tertentu. Setelah sinopsis tersebut diterima, maka tulisan itu akan dikembangkan menjadi skenario dan seterusnya. Hingga pada akhirnya tayang di televisi untuk kita saksikan bersama keluarga.

Pada hari itu aku baru tahu jika mereka-mereka itu tidak bekerja langsung pada stasiun televisi atau Production House manapun. Mereka bekerja untuk satu orang yang telah dikontrak oleh PH sebagai penulis skenario. Jadi serupa Ghost Writer yang bersembunyi dibalik layar dan menulis atas nama orang lain. Bagi mereka itu tidak masalah sebab dianggap bagian dari proses.

boro-boro dikontrak PH, emangnya kita siapa? Belum punya nama juga”, begitu kata si perempuan mungil yang pakai kacamata. Maksudnya mereka itu belum populer sebagai penulis. Kalau nama sudah pasti punya sebab diberi oleh orang tua. “Kami mah, yang penting dapat duit, hihi…”, tambah teman yang satunya usai berswafoto dengan gawainya.

Itu hari aku juga sempat menggugat mereka perihal sinetron dan FTV di Indonesia yang – bagi sebagian netizen – dianggap tidak mendidik. Ceritanya juga itu-itu saja. Mulai dari perkara jatuh cinta paska tabrakan yang membuat buku-buku si cewek berserakan hingga soal asmara si miskin dan si kaya yang kalau dipikir-pikir too good to be true. Dari segi judul, itu sinetron atau FTV juga bisa bikin pusing kita punya kepala. Misalnya “Anakku Menjadi Anak Mantan Suamiku” atau “Istriku Lupa Kami Bangkrut”. Pikirkan sendiri, judul macam apa ini? Belum lagi di beberapa episode kerap kita temukan dialog dan adegan yang berkelindan dengan tindak kekerasan.

Teman-temanku itu menanggapi bahwasanya tidak semua PH memproduksi sinetron begitu rupa. Mereka menyebut istilah Hardcore untuk sinetron dan FTV yang memuat unsur maki-jambak-tampar itu. Dan secara tersirat mereka menolak disalahkan atas penayangan tontotan kurang mendidik versi netizen sok moralis tersebut. “Kan, kita kerja sesuai permintaan penulis naskah dari PH nya. Lagian yang Hardcore begituan ratingnya tinggi. Itu berarti masyarakat kita nerima”, bantah mereka.

Mendengar jawaban mereka aku cuma bisa senyam-senyum saja. Soalnya aku geli sendiri membayangkan jika pelaku industri terus-terusan mengikuti permintaan pasar. Sebab jika mereka terus memproduksi barang sesuai keinginan konsumen, maka bukan tidak mungkin hari ini kita masih mengendarai kuda kemana-mana. Kenapa? Begini ceritanya.

Dahulu kala, harga satu unit mobil sangatlah mahal karena proses produksinya yang terbatas. Oleh karena itu, hanya golongan kaya raya saja yang dapat memiliki mobil. Sedangkan sebahagian besar masyarakat masih menggunakan kuda sebagai sarana transportasi mereka. Hingga seorang Henry Ford, pendiri Ford Motor Company pada tahun 1908 memproduksi mobil secara massal pertama di dunia. Produksi massal itu mampu menekan biaya produksi sehingga harga jual mobil model-T pabrikan Ford tersebut menjadi lebih terjangkau.

Saat itu golongan masyarakat ekonomi kelas menengah tentu tidak pernah terpikir untuk memiliki mobil oleh karena harganya yang mahal. Nah, jika Henry Ford menggunakan logika PH sinetron dan FTV di Indonesia, ia tentu akan mengikuti selera pasar. Apa yang di inginkan masyarakat saat itu? Tentu saja kuda yang lebih kuat dan cepat alih-alih sebuah alat transportasi alternatif serupa mobil. Maka dari itu jika dahulu Henry Ford tidak berani melabrak permintaan pasar, mungkin saat ini kita akan mengenal Ford sebagai peternakan kuda, bukan produsen mobil terkemuka.

Jadi bagiku, tak masuk akal jika sebuah PH memproduksi tontonan bagi masyarakat hanya untuk mengejar rating semata. Selayaknya bisnis, inovasi adalah suatu hal yang niscaya. Dan pelaku industri pertelevisian punya tanggung jawab untuk mencerdaskan masyarakat melalui program-program yang ditayangkannya. Jadi kenapa harus seragam dan tidak berani menampilkan sesuatu yang beda? Soalnya bagaimana masyarakat bisa memilih tontonan yang berkualitas jika semua channel di televisi tayangannya begitu rupa?

 

Bandung, 24 September 2018

Img Source 1, 2, 3

Di Indonesia, Komunis Memang Ada dan Terus Berlipat Ganda

img source

Belakangan ini, bandul politik di Indonesia tengah bergerak ke arah kanan. Begitu kata seorang pengamat politik langganan media-media arus utama. Hal ini menguat terutama paska Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Propaganda demi propaganda diluncurkan oleh masing-masing pihak yang ikut berkompetisi untuk memperkuat barisannya atau menghantam barisan lawan. Salah satunya adalah politik identitas berlabel agama. Dan setelah pernyataan kontroversial Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang oleh majelis hakim dianggap menista agama, hegemoni politik identitas di Indonesia terasa semakin kentara. Hal itu bisa kita perhatikan dengan diselenggarakannya aksi demo berjilid-jilid beserta reuninya yang terlalu naif jika dikatakan tanpa muatan politik.

Memang, ciri paling dominan dari pemikiran-pemikiran kelompok sayap kanan yaitu nilai-nilai tradisional yang seringkali berkaitan dengan isu agama. Dan tanpa perlu menyebut nama, kita tentu tahu persis bagaimana para oknum memanfaatkan isu agama dalam proses perebutan kuasa. Bahkan celakanya, hingga ada yang berani mengklaim kelompoknya adalah pengejawantahan tuhan dalam bentuk partai politik. Entah apa maksudnya. Mungkin partai tersebut didirikan oleh tuhan atau bisa jadi hanya partainya yang mendapat ridha tuhan. Tapi pada kesempatan ini kita tidak sedang membicarakan kapitalisasi isu agama dalam ranah politik karena menurutku itu tidak asik.

Menguatnya kekuatan politik sayap kanan ini sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak jauh-jauh hari. Pemilihan Presiden pada 2014 lalu menurut pengamatanku adalah awal mula pergeseran bandul politik tersebut. Dan isu yang memantik pergeseran bandul tersebut tidak lain tidak bukan ialah isu tentang kebangkitan komunis. Isu ini kembali direproduksi setelah sekian lama tenggelam bersamaan dengan karamnya kapal besar orde baru yang dinahkodai Soeharto.

img source

Berbagai sumber dan bukti disertakan untuk memperkuat propaganda kebangkitan komunis ini. Mulai dari yang menghebohkan seperti selentingan kabar tentang adanya Kongres PKI di Magelang berkedok training pembuatan pupuk organik, hingga yang paling absurd soal adanya lambang palu arit di lembaran rupiah keluaran terbaru. Semua itu dilakukan untuk satu tujuan; meyakinkan masyarakat bahwa anggota partai komunis di Indonesia itu nyata adanya dan mereka semakin berlipat ganda.

Tapi benarkah komunis masih ada di Indonesia setelah dihantam dengan berbagai cara setelah sekian lama? Apakah benar mereka masih eksis sehingga kita harus ‘berjihad’ untuk membasmi komunis hingga ke akar-akarnya?

img source

Menurut penelitian yang kulakukan secara intensif – di internet tentunya – komunis memang masih ada di Indonesia. Ianya memang ada dan jumlahnya memang semakin berlipat ganda. Tapi aku tidak yakin, kita memang harus membasmi komunis jenis ini. Sebab tampaknya ia tidak berbahaya bagi kelangsungan berbangsa dan bernegara. Malah, ada penelitian yang menyebutkan bahwa komunis ini bisa menjadi sumber energi alternatif terbarukan.

Mungkin sebagian dari kamu tidak percaya lalu kemudian bertanya-tanya, mengapa komunis bisa menjadi begitu rupa? Maka dari itu kusarankan segera buka peramban internet yang ada di gawaimu dan ketikkan Ricinus Communis. Apa yang kamu temukan? Jangan terkejut jika memang komunis itu memang masih ada dan terus berlipat ganda!

Menulis Untuk Apa?

img source

Menulis adalah salah satu bentuk self healing bagi seorang @alaikaabdullah. jujur saja aku tidak mengerti bagaimana baginya menulis bisa menjadi seperti itu. Juga tak pernah kepikiran untuk menguliknya lebih jauh. Bagiku, aktivitas menulis bagi masing-masing orang tentu memiliki tujuannya sendiri.

Sebahagian orang menganggap menulis adalah untuk hidup. Mereka ini mungkin adalah para penulis profesional yang menyambung hidup dari deretan kata yang dirangkainya. Tak peduli tulisannya masuk koran atawa dicetak dalam bentuk buku, asal menghasilkan uang selesai itu perkara.

Sebahagian lain menganggap menulis adalah bentuk lain dari tamasya. Tamasya pikiran lebih tepatnya. Dan orang-orang ini kusangka adalah mereka yang menulis karena suka. Untuk kelompok yang ini, setahuku @sangdiyus adalah salah satunya. Setidaknya begitu yang ia tulis pada bio akun steemitnya.

img source

Namun tak jarang kita menemukan orang-orang yang punya alasan yang lebih idealis. Mereka beranggapan bahwa menulis adalah kerja-kerja peradaban. Adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk mencatat sesuatu agar tak begitu saja menguap dari ingatan. Tulisan menjadi serupa alat rekam laju zaman yang dengannya, generasi mendatang bisa mengetahui apa yang terjadi pada hari ini.

Aku juga punya alasan sendiri untuk menulis. Bagiku ini adalah suatu kemampuan yang penting untuk aku kuasai oleh karena aktivitasku saat ini.  Bahwasanya dalam dunia politik, penyebarluasan gagasan adalah hal yang lebih penting tinimbang pancaragam strategi kampanye. Dan bagi seorang politisi, hal itu mutlak harus dilakukan demi tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Adalah sebuah kewajiban untuk memberi pendidikan politik bagi konstituen alih-alih memecah-belah mereka demi hasrat merengkuh kuasa.

Menulis bagiku adalah cara untuk menjabarkan gagasan dan tulisan adalah media penyebarluasan gagasan itu tadi. Kita bisa saja bertukar pikiran melalui diskusi tatap muka namun hal tersebut memiliki batasan ruang dan waktu. Tapi melalui tulisan, gagasan-gagasan itu akan terbang menjangkau tempat yang bahkan tak pernah mungkin kujamahi. Melalui tulisan, sebuah gagasan akan terus menyebar bahkan saat si penggagas tengah memproduksi liur di atas dipan.

img source

Namun jauh hari sebelum aku sadar akan pentingnya belajar menulis, ada suatu kejadian. Itu adalah kejadian yang pada akhirnya berakibat kepada kondisi kejiwaanku. Istilah medisnya: trauma. Setelah mengalami kejadian tersebut, aku menjadi trauma terhadap hal-hal serupa ataupun yang terkait dengannya. Saat itu, seorang teman yang secara usia terpaut jauh diatasku mengatakan ada baiknya aku menuliskan pengalaman buruk tersebut agar tidak terus menerus terbayang dalam ingatan.

Butuh waktu berminggu-minggu sehingga aku melakukan apa yang ia sarankan. Dengan segala keterbatasan kemampuan meracik kalimat saat itu, aku menuangkan segalanya kedalam deretan kata. Dan ajaibnya, hanya butuh beberapa hari aku mulai merasa pulih dari trauma yang ku alami. Aku mulai berani kembali beraktivitas seperti sedia kala dan perlahan mulai melupakan segalanya. Dan apa yang kutulis saat itu hingga kini kusimpan sebagai bentuk penghargaan atas saran si kawan.

Ibarat sebuah perangkat penyimpanan data, otak kita merekam banyak sekali hal baik disengaja ataupun tidak. Kita seringkali mendapati diri tanpa kuasa untuk memilah mana yang harus dilupakan dan mana yang harus tetap disimpan dalam ingatan. Dari apa yang aku alami, aku menjadi mengerti seperti apa caranya mengahapus data dalam memori kepala dan memindahkannya kedalam bentuk tulisan. Dan oleh sebab itu aku jadi punya alasan lain kenapa aku menulis. Aku menulis untuk melupakan.

Wisata Berbasis Anak Durhaka

Pada suatu hari yang entah kenapa lupa dicatat tanggal dan tahunnya dalam sejarah, seorang lelaki marah lalu menendang perahu yang sedang dibikinnya. Perahu itu kemudian terbang dan jatuh dalam posisi terbalik. Aku tak mampu membayangkan sebesar apa perahu itu dan seperti apa ukuran tubuh si penendang, tapi yang jelas itu adalah awal mula terciptanya gunung Tangkuban Perahu yang tertera dalam dongeng Sangkuriang.

Siapa itu Sangkuriang? Menurutku ia adalah seorang anak durhaka karena bermaksud mengawini ibunya. Sangkuriang lahir dari rahim Dayang Sumbi – perempuan cantik yang berbapak seorang raja dan beribu seekor babi. Bagaimana ceritanya jadi seperti itu, silahkan kau cari tahu sendiri. Jika ku urai terlalu panjang, nanti malah datang si @cheetah celaka itu kesini. Sangkuriang memiliki bapak seekor binatang, yaitu seekor anjing bernama Tumang yang harus dinikahi Dayang Sumbi akibat ianya terlalu malas. Malas mengambil torak yang terjatuh saat ia sedang menenun lalu berjanji menikahi siapapun yang mau membantu mengambil torak itu tadi. Dan terpaksa ia menikahi Tumang karena si anjing itulah yang kemudian mengambilkannya.

Pada intinya setelah berbagai macam drama, Sangkuriang pulang dari mengembara dan menjumpai seorang gadis cantik jelita. Ia lantas mengajak gadis tersebut untuk menikah. Oleh karena ketampanan dan perawakannya yang gagah perkasa, gadis itu menerima pinangan Sangkuriang. Saat itu ia belum mengetahui jika gadis tersebut adalah Dayang Sumbi yang jelitanya telah abadi. Itu sebab Dayang Sumbi bertapa dan hanya makan lalap. Dayang Sumbi juga tidak tahu jika pemuda itu adalah anak kandungnya sendiri. Tapi pada suatu hari saat sedang mengencangkan ikat kepala Sangkuriang, Dayang Sumbi terkejut melihat tanda yang ada di kepala dan segera menyadari pemuda itu adalah anak kandungnya.

Oleh karena itu, Dayang Sumbi mencari cara untuk menggagalkan rencana pernikahan mereka. Jadilah ia memberi syarat kepada Sangkuriang untuk membendung sungai Citarum dan membuat sebuah perahu raksasa sebagai syarat pernikahan mereka. Sangkuriang menyanggupi syarat itu dan mengajak serta para makhluk halus untuk membantunya. Ketika semuanya hampir selesai, Dayang Sumbi menggagalkannya dengan membentang kain hasil tenunannya sendiri di ufuk timur sembari memukul alu ke lesung berkali-kali. Itu membuat para makhluk halus yang membantu Sangkuriang lari terbirit-birit karena mengira hari telah pagi. Padahal itu hanyalah ulah Dayang Sumbi yang tak mau dinikahi anak sendiri.

Foto: Bukan Dayang Sumbi.

Jadilah aku kesana pada hari itu, ke gunung Tangkuban Perahu. Ke situs wisata berbasis anak durhaka. Yang hari ini bisa kita nikmati karena dahulu kala ada seorang lelaki yang ingin menikahi ibunya. Cuacanya dingin dan nyaris setiap kelok jalan menuju kesitu diselimuti kabut tebal yang menghadirkan suasana yang damai.

Bagi kalian yang sedang atau akan berkunjung ke kota Bandung, aku sarankan untuk datang ke Tangkuban Perahu. Tiket masuknya relatif murah, perkepala hanya sekitar dua puluh ribu. Disana kalian bisa menikmati keindahan kawah gunung berapi tanpa harus berlelah-lelah mendaki. Atau jika kalian adalah perempuan dan ingin awet muda, kalian bisa kesana untuk mencicipi daun dari tumbuhan Manarasa. Itu adalah pohon yang daunnya menjadi lalapan Dayang Sumbi. Daun yang membuat ia tetap awet muda sehingga membuat anaknya sendiri jatuh cinta.

Foto: Daun Manarasa. Memakan pucuk daunnya konon bisa membuat awet muda.

Berada di gunung Tangkuban Perahu saat itu juga membuatku berfikir betapa tidak kreatifnya dongeng tentang anak durhaka di Indonesia. Ini soal nama si anak durhaka yang entah kenapa harus selalu berakhiran ‘ang. Selain Sangkuriang, kita juga pasti mengenal si Malin Kundang dari Padang. Juga ada Amat Ramanyang di teluk Lamuri, Aceh Besar. Dan entah memang disengaja atau tidak, peninggalan ketiganya sekarang dijadikan tempat wisata. Tempat wisata berbasis anak durhaka lebih tepatnya.

Lalu apa aku ke Tangkuban Perahu untuk berwisata? Bukan. Atau untuk makan daun Manarasa? Itu juga bukan. Lagian, buat apa awet muda? Kan umur itu cuma soal angka, muda itu soal jiwa. Kalau begitu buat apa? Ya buat kerja. Kerja apa? Kerja mah apa aja, yang penting cape”, Sabda Imam Besar The Panas Dalam pada suatu ketika.

Foto: Nyapu jalan agar terbebas dari kuman.

Kalau Ada Gempa Kita Harus Apa?

img source

Indonesia rawan gempa bumi. Itu adalah kalimat yang mulai sering kita dengar akhir-akhir ini. Hal tersebut disebabkan letak Indonesia yang berada pada pertemuan 3 lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, serta Lempeng Eurasia. Selain 3 Lempeng tektonik besar itu, Indonesia juga berada di daerah cincin api pasifik (ring of fire). Itu berarti, ada banyak sekali gunung vulkanik aktif yang kapan saja bisa mengalami erupsi; sebuah aktivitas gunung berapi yang juga dapat memicu terjadinya gempa bumi.

Belakangan ini ditengah gempita penyambutan hari kemerdekaan serta pekan olahraga se-Asia, Indonesia kembali berduka. Musibah gempa bumi kembali terjadi dan kali ini mengguncang Lombok, Bali, dan sekitarnya. Ratusan orang menjadi korban akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Ribuan lainnya harus mengungsi ke tenda-tenda akibat pemukiman yang hancur dilanda gempa. Bahkan hingga kemarin telah terjadi 101 kali gempa susulan paska lindu berkekuatan 6,9 SR.

Sebagai orang Aceh, pengalaman dilanda gempa ini kualami bukan sekali-dua. Paska gempa besar yang mengakibatkan terjadinya Tsunami pada akhir 2004 lalu, kami masyarakat Aceh telah berkali-kali merasakan fenomena alam ini. Terakhir gempa bumi dalam skala besar mengguncang Kabupaten Pidie Jaya pada penghujung 2016 lalu. Musibah ini menelan sedikitnya 97 orang korban jiwa dan ratusan lainnya luka-luka.

Paska musibah gempa dan tsunami pula, kami terbiasa didatangi pancaragam organisasi relawan. Mereka itu ada yang tugasnya mengevakuasi korban, ada yang sekedar bagi-bagi bantuan, ada yang melakukan penanganan trauma paska bencana, namun banyak pula yang bingung harus melakukan apa sebab tak dibekali pengetahuan sebelum terjun kelokasi bencana. Namun bagaimanapun kami tetap berterima kasih kepada mereka yang sudah mau meluangkan waktu untuk datang menjenguk kami saat tertimpa kemalangan. Meski niatnya hanya untuk sekedar jalan-jalan.

Dari para relawan itulah, kami di ajarkan seperti apa seharusnya kami menghadapi musibah gempa bumi. Itu adalah lagu berisi edukasi yang kucuri dengar saat kakak-kakak relawan melakukan program trauma healing disekolah-sekolah. Dan pada kesempatan ini aku akan berbagi kepada rakan sekalian tentang Apa Yang Harus Dilakukan Kalau Ada Gempa.

 

img source

1. Kalau Ada Gempa Lindungi Kepala.

Saat sedang beraktivitas dan tiba-tiba kamu merasa kepalamu seperti berputar-putar, perhatikan dahulu di sekitar. Jika benda-benda lain tidak bergoyang pula tanah tidak bergetar, itu bukan gempa melainkan tanda kalau kamu mungkin sedang lapar. Tapi jika kamu sudah pastikan itu adalah gempa bumi, segeralah lindungi kepala menggunakan apa saja baik dengan buku, tas, atau apapun yang bisa melindungi kepalamu dari reruntuhan. Pastikan yang kamu lindungi itu adalah kepalamu sendiri, bukan kepala sekolah apalagi kepala daerah.

 

img source

 2. Kalau Ada Gempa Masuk Kolong Meja.

Jika kamu sedang berada di dalam ruangan saat terjadi gempa, segeralah berlindung dengan cara masuk ke kolong meja. Hal ini diharapkan bisa menyelamatkanmu jika sewaktu-waktu gempa menyebabkan atap bangunan tersebut runtuh. Paling tidak reruntuhan itu tidak menimpamu sebab terhalang dengan meja yang kau gunakan untuk berlindung. Tapi sebelumnya pastikan bahwa meja itu cukup kuat. Sekali lagi kamu harus ingat, masuk ke kolong  meja. Bukan masuk ke tahanan KaPeKa. Pastikan juga mejanya itu bukan meja hijau!

 

img source

3. Kalau Ada Gempa Hindarilah Kaca.

Gempa bumi terutama dengan skala besar dapat meruntuhkan bangunan terutama yang bermaterial kaca. Oleh karena itu, saat gempa terjadi, sebisa mungkin kamu menghindari kaca sebab pecahannya bisa saja membuatmu terluka. Yang paling penting, tidak perlu sibuk-sibuk ngaca saat terjadi gempa. Semua juga sudah tau keburukanmu seperti apa.

img source

4. Kalau Ada Gempa Lari Kelapangan Terbuka.

Pada setiap fasilitas publik, pasti ada Assembly Point yang berfungsi sebagai tempat berkumpul ketika terjadi bencana. Nah, larilah kesitu saat gempa terjadi. Jika disekitarmu tidak ada Assembly Point-nya, maka carilah tempat terbuka yang jauh dari bangunan. Sebab sewaktu-waktu bisa saja bangunan itu runtuh dan menimpamu. Saat gempa terjadi usahakan juga untuk tidak panik sebab nanti bukannya kelapangan terbuka, kamu malah lari keluar negeri seperti pimpinannya para alumni.

Rakan sekalian, itu tadi empat hal yang harus kamu lakukan kalau ada gempa. Selain empat hal tersebut, yang paling penting kamu lakukan saat ada gempa adalah ingat kepada Allah Ta’ala. Karena semua cobaan itu datang dari-Nya!

Politisi Asongan

img source

Bulan-bulan belakangan ini dan bisa dipastikan berbulan-bulan selanjutnya, hidup kita akan terusik dengan hiruk pikuk pesta politik. Tapi sebelum aku mulai, kutegaskan tulisan ini tidak bermaksud untuk mengarahkan pilihan rakan sekalian. Hanya kontemplasi pribadi atas kerja-kerja politik yang selama ini yang kujalani.

Lazim kita temukan di simpang-simpang jalan baik yang ada traffic light-nya ataupun tidak, para pedagang asongan berseliweran menjajakan dagangannya. Ada yang menenteng minuman ringan botolan, menawarkan tissu wajah, pula barang paling sederhana seperti rokok-permen-kwaci. Mereka ini beraksi menawarkan barang dagangan kepada kita-kita para pengguna jalan. Tak peduli siang atawa malam, para pengasong itu menghampiri satu demi satu pengendara, mencoba menjual apa saja yang mungkin dijual demi seperak-dua laba.

merujuk pada KBBI, asong atau mengasong adalah istilah yang berarti sebuah aktivitas menjual dengan cara menyodor-nyodorkan sesuatu (dengan harapan agar dibeli). Sedangkan pengasong sendiri berarti orang yang mengasong. Yaitu orang yang menjual dengan cara menyodor-nyodorkan sesuatu dan berharap kita akan membelinya.

Dalam setiap masa kampanye politik kita kerap kali mendengar istilah jualan kecap untuk menunjukkan perilaku tim sukses (timses) yang sedang mengkampanyekan calon jagoannya. Mereka ini dengan penuh percaya diri akan selalu berusaha meyakinkan kita bahwa kecap miliknya adalah kecap terbaik. Terbuat dari kedelai hitam pilihan yang dirawat seperti istri simpanan sendiri.

img source

Dalam beraksi, para timses ini dituntut untuk tidak ragu-ragu bertebal-tebal muka. Bahkan diyakini, keberhasilan seorang politisi memenangkan kontestasi politik elektoral sangat dipengaruhi oleh ketebalan muka timsesnya. Semakin tebal itu muka, semakin besar pula peluang calonnya keluar sebagai juara. Ketebalan muka itu tentu saja berbading lurus dengan ketebalan dompet si calon. Semakin tebal dompet, maka semakin banyak jenis kosmetik yang di-siliek untuk mempertebal muka timsesnya. Dengan begitu, semakin mudah si politisi meraih kuasa.

Maka dari itu, semakin kesini aku pribadi menangkap kesan semakin banyak politisi yang berfikir persetan dengan politik gagasan. Tak ada guna visi-misi dan rencana kerja berpuluh halaman. Yang penting ianya punya timses yang tebal muka lagi militan.

Perilaku timses yang dengan muka tebal menyodor-nyodorkan calon jagoannya ini kurang lebih mirip seperti prilaku pedagang asongan. Dan seperti halnya pedagang asongan, timses ini juga berharap seperak-dua laba alih-alih ingin memperbaiki kondisi berbangsa. Tak peduli merk kecapnya apa, asal sanggup memberi biaya kosmetik, maka itu kecap akan di asong dengan segenap ketebalan muka.

Yang lebih parah dari itu tentu saja politisi asongan. Mereka adalah yang tanpa malu menyodor-nyodorkan dirinya sendiri untuk dipilih oleh masyarakat. Lewat konten-konten di media sosial pula dari meja ke meja di kedai kopi, ianya dengan percaya diri menjajakan dirinya sendiri. Sekali lagi, persetan politik gagasan. Yang penting ianya tembus ke gedung dewan atawa menjadi kepala pemerintahan. Aku tak tahu harus berkomentar apa untuk perilaku begini rupa. Namun aku bersyukur, seumur-umur belum pernah mendapat teman politisi asongan.

Teman-teman, kita semua tahu bahwa sebentar lagi pemilu. Aku harap kita waspada sebab politisi asongan ada dimana-mana. Nama atau fotonya ada disetiap lembar surat suara yang akan disodori petugas pemungutan suara kepada kita nantinya. Tak peduli itu pemilihan DPR, DPD, atawa Presiden sekalipun, para politisi asongan ini siap sedia nyodor-nyodorin kecapnya sendiri kepada kita. Oleh karena itu, jangan salah pilih kecap. Teliti sebelum membeli. Dan pastikan ada label halal dari MUI.

img source

 

Bandung, 16 Agustus 2018

 

Salam Manis

Bink Fernanda

Ke Lembang Untuk Senang!

Sudah berhari-hari di Bandung tapi belum sempat main kemana-mana itu ternyata tidak ada pengaruh apa-apa. Aku masih tetap hidup dan bernafas seperti biasa. Kukira, aku akan merasa menderita sebab sudah jauh-jauh kesini tapi cuma main ke Rumah The Panasdalam aja. Jika tidak menderita, minimal suntuk pasti melanda. Ternyata tidak, sebab akunya memang malas gerak.

Tapi bagaimanapun juga, hari itu akhirnya aku bersama si Raja dan Deni (bukan manusia ikan) akhirnya melaju ke arah Lembang. Jalan-jalan menuju Lembang jujur saja membawa ingatanku kembali ke masa lalu. Bukan karena dulunya aku pernah kesana. Bukan juga karena aku punya teman atau mantan pacar orang Lembang. Tapi karena apa? Yap! Sinetron Pernikahan Dini yang dulu sering ditonton ibuku saban malam minggu. Aku masih ingat Kak Gun yang diperankan oleh Syahrul Gunawan itu aslinya dari Lembang. Bahkan hingga saat ini, aku masih hafal sekali salah satu potongan dialog dalam sinetron tersebut: ”Kak Gun jahat!”. Itu dialog si Dini (Agnes Monica) saat sadar Nuga Kak Gun baru saja terpacak di selangkangannya. Dan adegan itu terjadi di salah satu villa di Lembang sana.

Kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Lembang sebab dua temanku itu besoknya akan kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan urusan masing-masing mereka. Saat itu kami juga ditemani sama si Didi yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Ianya anak Jatinangor yang karena kuliah di ISBI Bandung jadi harus nge-kos di daerah Buah Batu. Aku tak tahu si Didi yang punya nama asli Diana Novita itu ditemukan dimana sama si Deni. Mungkin saja Didi itu temannya. Yang jelas karena bantuan si Didi kami jadi tahu jalur alternatif menuju lembang tanpa harus melewati kawasan Setia Budi yang saat itu sedang ada Razia. Sebab tak satupun dari kami punya SIM A.

Selain kami berempat, juga ada tiga orang lainnya.  Ada Friko yang ikutan ke Bandung dari Jakarta, juga ada Vista yang oleh si Didi dipanggil Omah. Kalau yang satu lagi aku lupa namanya siapa. Soalnya dia jarang ikut ngumpul karena sibuk sama kerjaannya di depan komputer yang di jinjing kemana-mana. Lagipula kami menumpang mobil yang berbeda. Memang dia sempat memperkenalkan diri saat pertama jumpa, tapi kemudian aku jadi lupa ia punya nama.

Hari sudah beranjak siang saat kami tiba di jalan masuk pemandian air panas Gracia, Lembang. Meski sudah agak siang, cuaca di sekitar Lembang masih sejuk. Untuk menuju kesana kami harus melewati perkebunan teh yang menyebabkan kami terpaksa turun sejenak dari mobil untuk foto-foto. Kukatakan terpaksa karena memang dipaksa sama si Didi. Juga sekalian untuk membuktikan bahwa ulat-ulat memang benar rebutan pucuk daun teh pilihan seperti kata iklan di tivi.

Masuk ke Gracia ternyata harus bayar dulu 70.000. Boleh juga cuma bayar 45.000 asal umurmu kurang dari 14 Tahun. Relatif mahal memang, tapi sebanding dengan fasilitas yang ada. Beberapa kolam untuk berendam disana benar-benar bersih bak kolam kaca. Jauh betul dengan kondisi pemandian air panas *ie seuum* yang ada di seputaran Krueng Raya, Aceh Besar. Saat itu,tak ada satupun pengunjung di Gracia. Hanya ada kami yang membuat kolam air panas itu serasa milik pribadi. Kata si Didi, biasanya orang-orang ke sana itu mulai dari sore hingga malam jula.

Baiklah, kurasa sekian dulu aja. Soalnya sekarang aku lagi kerja. Kerja apa? Nanti aku cerita. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Bandung, 11 Agustus 2018

Salam Manis

 

@senja.jingga

Dari Panggung Hiburan Ke Panggung Politik Yang Sebenarnya Tidak Ada Panggungnya

Img Source

Dilansir dari laman detik.com, puluhan selebritis dikabarkan ikut bertarung menuju senayan pada pileg 2019 nanti. Satu diantara 59 artis itu adalah Krisdayanti. Anjiiiirrr…. Mau maju dari dapil mana mba Yanti? Timor Leste? hehehe…

Soal fenomena para pegiat panggung hiburan tanah air yang  mencoba peruntungan di panggung politik, aku sendiri tidak tahu kapan itu dimulai. Yang jelas, tahunya itu bulat. Digoreng dadakan. Lima ratusan. Kalau di Bandung, itu ada lagunya. Loh kok malah bahas tahu? Maksudku, fenomena itu seperti muncul begitu saja saat sistem pemilihan langsung anggota DPR mulai diterapkan di Indonesia.

Tak bisa dipungkiri memang, popularitas adalah salah satu modal penting menghadapi politik elektoral. Selain tentu saja elektabilitas dan isi-tas. Popularitas adalah modal yang paling dasar dimana semakin tinggi popularitas seseorang, maka semakin sering namanya beredar di masyarakat. Tak peduli beredar di meja-meja diskusi, disebut-sebut infotainment, atau menjadi bahan meu upat emak-emak sambil cari kutu. Yang penting terkenal dia itu.

Dengan modal popularitas, maka elektabilitas bisa dengan mudah di dongkrak. Tinggal bagaimana tim kerjanya memproduksi omong kosong yang akan di jual ke masyarakat. Misalnya si ini peduli sama masyarakat miskin atau si anu yang medukung pemberantasan korupsi. Semua itu bisa di atur bahkan dengan isu yang paling ngawur.

Hal tersebutlah mungkin yang membuat beberapa partai politik menggandeng para selebritas itu bergabung dalam squad calon wakil rakyat. Partai-partai itu berharap para artis ini bisa menjadi vote getter pada pileg nanti. Apalagi sekarang sistem perhitungan suara sudah menggunakan sistem saint lague murni (SLM). Seperti apa sistem SLM ini, bisa kau tanya sama KPU. Soalnya mereka memang digaji oleh negara untuk urusan itu.

Tapi bentar dulu, bagaimana dengan kinerjanya? Seingatku – dan tolong ingatkan lagi jika aku luput, hanya ada dua politisi dari kalangan selebriti yang secara kinerja layak di apresisasi. Mereka adalah Tantowi Yahya dari Partai Golkar dan Rieke Dyah Pitaloka dari PDI. Selebihnya, aku tak pernah dengar sepak terjangnya. Terlepas jika kalian mau bilang itu cuma gimmick di media.

Bukannya mau meremehkan, tapi ya coba saja kamu pikirkan, mau ngapain mereka nantinya di gedung parlemen sana? Emangnya menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah itu semudah pura-pura nangis di depan kamera? Atau mereka kira, melaksanakan tugas budgeting itu ribetnya sama dengan ikutan sinetron stripping? Jikapun ada staf ahli yang bakalan ngurus ini-itu terkait kerja-kerja di parlemen nanti, itu kan cuma sebagai tim pendukung. Tetap si anggota dewan yang harus di depan. Kalau cuma ngandalin staf ahli, bukannya itu berarti dianya memang ga mampu duduk disitu. Jika memang begitu, lantas kenapa ke-pede-an mau maju? Kan Asu!

Tapi bagaimanapun, itu adalah hak masing-masing orang. Hak dipilih dan memilih itu memang melekat pada diri kita sebagai warga negara. Siapa saja dibolehkan untuk menjadi calon wakil rakyat asal mencukupi persyaratan. Akunya cuma mau mengingatkan, modal popularitas saja tidak mencukupi untuk menjadi seorang anggota dewan. Kita sebagai pemilih harus sadar bahwasanya apapun latar belakangnya, orang yang nantinya kita pilih untuk mewakili kita di gedung parlemen sana harus benar-benar memiliki kapabilitas. Tidak peduli dia itu artis, pengusaha, atau mantan satpam sekalipun.

Aku hanya tidak mau kita sebagai pemilik hak suara menggunakan hak kita itu untuk memilih – katakanlah Annisa Bahar, hanya karena tergoda sama goyang ngebor-nya yang aduhai dan terindikasi bisa membuat sempit celana lelaki. Sebab percayalah, masalah kemiskinan, pengangguran, pemerataan pembangunan, pengawasan penggunaan anggaran, dan masih banyak an-an lainnya itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan goyang pinggul semata. Atau milih mas Primus karena dia itu Panji Manusia Millenium yang siap sedia membasmi kejahatan. Kecuali kamu percaya manusia sejahat Donclo yang rambutnya tegang-tegang seperti durian itu benar-benar ada di kenyataan. Sehingga kita butuh seorang Panji untuk membasminya.

Sekali lagi kutegaskan, semua itu kembali kepada masing-masing kita. Tapi yang jelas, sikapku begitu. Sebagai warga negara, aku hanya akan mempercayakan suaraku kepada orang-orang yang benar-benar mampu. Soal nantinya si calon pilihanku tidak terpilih, yasudah tidak apa-apa. Ngapain juga cari-cari pusing. Karena aku tidak merasa kehilangan pusing. Walaupun jika dipikir-pikir lagi, sebaiknya memang parlemen itu di isi oleh mereka-mereka itu. Para artis yang memang bisa akting itu. Soalnya kalau nanti mereka mau ikut-ikutan nabrak tiang listrik seperti si mantan ketua, akting mereka tidak akan sekampungan si Papa. Lagipula, sekarang ini atmosfir di dalam gedung dewan memang sedikit terasa seperti di Korea, terlalu banyak Drama!