Panggilan Pemantik Rindu

Beberapa hari yang lalu ibu menghubungiku lewat sambungan telpon sekedar bertanya kabar. Lantas seperti biasa, ia bercerita soal kucingku si Hitam yang semakin pintar menyelinap masuk kerumah dari jendela. Atau tentang si Coklat yang tetap menantiku pulang saban malam di muka pintu gudang. Saat itu ibu juga terkekeh sendiri saat memberitahu bagaimana menggemaskannya rupa Aira, anak pamanku, saat menggigit sepotong jeruk nipis tanpa sepengetahuan ibunya. Saat itu Aira yang baru saja bisa berjalan meraih jeruk nipis di dapur lantas membawanya kabur ke ruang tengah, tempat ibuku sedang duduk mengadon bahan kue.

Lewat sambungan telepon itu ibu juga mengabarkan bahwa saat ini Banda Aceh sedang deras-derasnya diguyur hujan. Itu berarti ianya kini punya waktu lebih panjang sepanjang petang. Sekedar untuk bersantai menikmati berita sore di stasiun televisi lokal atau bermain bersama Aira kecil. Sebab ada langit yang kini menggantikan tugas menyiram tanaman hias kesayangannya. Tanaman yang selalu membuatku dimarahi ibu karena kerap alpa kusirami saat ia tak di rumah berhari-hari.

Dari grup pesan singkat, aku menjadi tahu apa yang dikatakan ibu benar adanya. Bahwa di Banda Aceh sana, sudah berhari-hari hujan turun terus. Langit menumpahkan rintik kondensasi sepanjang hari. Dan ternyata september masih seperti biasanya, masih seperti musim hujan yang lalu, meninggalkan genang di mana-mana. Dan memantik kenang di dalam benak.

Jujur saja, saat ini aku rindu hujan. Tepatnya merindukan Banda Aceh yang hujan. Yang kerap kunikmati bersama kepulan asap kopi dan rokok yang disulut tak putus-putus. Merindukan segalanya dari sini. Dari tengah-tengah kota Bandung yang masih saja kerontang sedangkan oktober sudah hampir mencapai paruh bulan. Bersama segelas kopi sachet-an dan wi-fi gratisan di sudut ruang kerja sederhana. Yang hanya berisi sepasang meja-kursi sambil menghadapi komputer jinjing yang kugunakan untuk menangkap apa saja sebelum ianya menguap dari kepala.

Rindu yang entah mengapa membuat segalanya berjalan lamban. Menghitung hari kepulangan yang sebenarnya hanya tinggal sepekan.

 

Bandung 10 Oktober 2018

salam manis

 

@senja.jingga

 

 

Menulis Untuk Apa?

img source

Menulis adalah salah satu bentuk self healing bagi seorang @alaikaabdullah. jujur saja aku tidak mengerti bagaimana baginya menulis bisa menjadi seperti itu. Juga tak pernah kepikiran untuk menguliknya lebih jauh. Bagiku, aktivitas menulis bagi masing-masing orang tentu memiliki tujuannya sendiri.

Sebahagian orang menganggap menulis adalah untuk hidup. Mereka ini mungkin adalah para penulis profesional yang menyambung hidup dari deretan kata yang dirangkainya. Tak peduli tulisannya masuk koran atawa dicetak dalam bentuk buku, asal menghasilkan uang selesai itu perkara.

Sebahagian lain menganggap menulis adalah bentuk lain dari tamasya. Tamasya pikiran lebih tepatnya. Dan orang-orang ini kusangka adalah mereka yang menulis karena suka. Untuk kelompok yang ini, setahuku @sangdiyus adalah salah satunya. Setidaknya begitu yang ia tulis pada bio akun steemitnya.

img source

Namun tak jarang kita menemukan orang-orang yang punya alasan yang lebih idealis. Mereka beranggapan bahwa menulis adalah kerja-kerja peradaban. Adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk mencatat sesuatu agar tak begitu saja menguap dari ingatan. Tulisan menjadi serupa alat rekam laju zaman yang dengannya, generasi mendatang bisa mengetahui apa yang terjadi pada hari ini.

Aku juga punya alasan sendiri untuk menulis. Bagiku ini adalah suatu kemampuan yang penting untuk aku kuasai oleh karena aktivitasku saat ini.  Bahwasanya dalam dunia politik, penyebarluasan gagasan adalah hal yang lebih penting tinimbang pancaragam strategi kampanye. Dan bagi seorang politisi, hal itu mutlak harus dilakukan demi tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Adalah sebuah kewajiban untuk memberi pendidikan politik bagi konstituen alih-alih memecah-belah mereka demi hasrat merengkuh kuasa.

Menulis bagiku adalah cara untuk menjabarkan gagasan dan tulisan adalah media penyebarluasan gagasan itu tadi. Kita bisa saja bertukar pikiran melalui diskusi tatap muka namun hal tersebut memiliki batasan ruang dan waktu. Tapi melalui tulisan, gagasan-gagasan itu akan terbang menjangkau tempat yang bahkan tak pernah mungkin kujamahi. Melalui tulisan, sebuah gagasan akan terus menyebar bahkan saat si penggagas tengah memproduksi liur di atas dipan.

img source

Namun jauh hari sebelum aku sadar akan pentingnya belajar menulis, ada suatu kejadian. Itu adalah kejadian yang pada akhirnya berakibat kepada kondisi kejiwaanku. Istilah medisnya: trauma. Setelah mengalami kejadian tersebut, aku menjadi trauma terhadap hal-hal serupa ataupun yang terkait dengannya. Saat itu, seorang teman yang secara usia terpaut jauh diatasku mengatakan ada baiknya aku menuliskan pengalaman buruk tersebut agar tidak terus menerus terbayang dalam ingatan.

Butuh waktu berminggu-minggu sehingga aku melakukan apa yang ia sarankan. Dengan segala keterbatasan kemampuan meracik kalimat saat itu, aku menuangkan segalanya kedalam deretan kata. Dan ajaibnya, hanya butuh beberapa hari aku mulai merasa pulih dari trauma yang ku alami. Aku mulai berani kembali beraktivitas seperti sedia kala dan perlahan mulai melupakan segalanya. Dan apa yang kutulis saat itu hingga kini kusimpan sebagai bentuk penghargaan atas saran si kawan.

Ibarat sebuah perangkat penyimpanan data, otak kita merekam banyak sekali hal baik disengaja ataupun tidak. Kita seringkali mendapati diri tanpa kuasa untuk memilah mana yang harus dilupakan dan mana yang harus tetap disimpan dalam ingatan. Dari apa yang aku alami, aku menjadi mengerti seperti apa caranya mengahapus data dalam memori kepala dan memindahkannya kedalam bentuk tulisan. Dan oleh sebab itu aku jadi punya alasan lain kenapa aku menulis. Aku menulis untuk melupakan.

Wisata Berbasis Anak Durhaka

Pada suatu hari yang entah kenapa lupa dicatat tanggal dan tahunnya dalam sejarah, seorang lelaki marah lalu menendang perahu yang sedang dibikinnya. Perahu itu kemudian terbang dan jatuh dalam posisi terbalik. Aku tak mampu membayangkan sebesar apa perahu itu dan seperti apa ukuran tubuh si penendang, tapi yang jelas itu adalah awal mula terciptanya gunung Tangkuban Perahu yang tertera dalam dongeng Sangkuriang.

Siapa itu Sangkuriang? Menurutku ia adalah seorang anak durhaka karena bermaksud mengawini ibunya. Sangkuriang lahir dari rahim Dayang Sumbi – perempuan cantik yang berbapak seorang raja dan beribu seekor babi. Bagaimana ceritanya jadi seperti itu, silahkan kau cari tahu sendiri. Jika ku urai terlalu panjang, nanti malah datang si @cheetah celaka itu kesini. Sangkuriang memiliki bapak seekor binatang, yaitu seekor anjing bernama Tumang yang harus dinikahi Dayang Sumbi akibat ianya terlalu malas. Malas mengambil torak yang terjatuh saat ia sedang menenun lalu berjanji menikahi siapapun yang mau membantu mengambil torak itu tadi. Dan terpaksa ia menikahi Tumang karena si anjing itulah yang kemudian mengambilkannya.

Pada intinya setelah berbagai macam drama, Sangkuriang pulang dari mengembara dan menjumpai seorang gadis cantik jelita. Ia lantas mengajak gadis tersebut untuk menikah. Oleh karena ketampanan dan perawakannya yang gagah perkasa, gadis itu menerima pinangan Sangkuriang. Saat itu ia belum mengetahui jika gadis tersebut adalah Dayang Sumbi yang jelitanya telah abadi. Itu sebab Dayang Sumbi bertapa dan hanya makan lalap. Dayang Sumbi juga tidak tahu jika pemuda itu adalah anak kandungnya sendiri. Tapi pada suatu hari saat sedang mengencangkan ikat kepala Sangkuriang, Dayang Sumbi terkejut melihat tanda yang ada di kepala dan segera menyadari pemuda itu adalah anak kandungnya.

Oleh karena itu, Dayang Sumbi mencari cara untuk menggagalkan rencana pernikahan mereka. Jadilah ia memberi syarat kepada Sangkuriang untuk membendung sungai Citarum dan membuat sebuah perahu raksasa sebagai syarat pernikahan mereka. Sangkuriang menyanggupi syarat itu dan mengajak serta para makhluk halus untuk membantunya. Ketika semuanya hampir selesai, Dayang Sumbi menggagalkannya dengan membentang kain hasil tenunannya sendiri di ufuk timur sembari memukul alu ke lesung berkali-kali. Itu membuat para makhluk halus yang membantu Sangkuriang lari terbirit-birit karena mengira hari telah pagi. Padahal itu hanyalah ulah Dayang Sumbi yang tak mau dinikahi anak sendiri.

Foto: Bukan Dayang Sumbi.

Jadilah aku kesana pada hari itu, ke gunung Tangkuban Perahu. Ke situs wisata berbasis anak durhaka. Yang hari ini bisa kita nikmati karena dahulu kala ada seorang lelaki yang ingin menikahi ibunya. Cuacanya dingin dan nyaris setiap kelok jalan menuju kesitu diselimuti kabut tebal yang menghadirkan suasana yang damai.

Bagi kalian yang sedang atau akan berkunjung ke kota Bandung, aku sarankan untuk datang ke Tangkuban Perahu. Tiket masuknya relatif murah, perkepala hanya sekitar dua puluh ribu. Disana kalian bisa menikmati keindahan kawah gunung berapi tanpa harus berlelah-lelah mendaki. Atau jika kalian adalah perempuan dan ingin awet muda, kalian bisa kesana untuk mencicipi daun dari tumbuhan Manarasa. Itu adalah pohon yang daunnya menjadi lalapan Dayang Sumbi. Daun yang membuat ia tetap awet muda sehingga membuat anaknya sendiri jatuh cinta.

Foto: Daun Manarasa. Memakan pucuk daunnya konon bisa membuat awet muda.

Berada di gunung Tangkuban Perahu saat itu juga membuatku berfikir betapa tidak kreatifnya dongeng tentang anak durhaka di Indonesia. Ini soal nama si anak durhaka yang entah kenapa harus selalu berakhiran ‘ang. Selain Sangkuriang, kita juga pasti mengenal si Malin Kundang dari Padang. Juga ada Amat Ramanyang di teluk Lamuri, Aceh Besar. Dan entah memang disengaja atau tidak, peninggalan ketiganya sekarang dijadikan tempat wisata. Tempat wisata berbasis anak durhaka lebih tepatnya.

Lalu apa aku ke Tangkuban Perahu untuk berwisata? Bukan. Atau untuk makan daun Manarasa? Itu juga bukan. Lagian, buat apa awet muda? Kan umur itu cuma soal angka, muda itu soal jiwa. Kalau begitu buat apa? Ya buat kerja. Kerja apa? Kerja mah apa aja, yang penting cape”, Sabda Imam Besar The Panas Dalam pada suatu ketika.

Foto: Nyapu jalan agar terbebas dari kuman.

Politisi Asongan

img source

Bulan-bulan belakangan ini dan bisa dipastikan berbulan-bulan selanjutnya, hidup kita akan terusik dengan hiruk pikuk pesta politik. Tapi sebelum aku mulai, kutegaskan tulisan ini tidak bermaksud untuk mengarahkan pilihan rakan sekalian. Hanya kontemplasi pribadi atas kerja-kerja politik yang selama ini yang kujalani.

Lazim kita temukan di simpang-simpang jalan baik yang ada traffic light-nya ataupun tidak, para pedagang asongan berseliweran menjajakan dagangannya. Ada yang menenteng minuman ringan botolan, menawarkan tissu wajah, pula barang paling sederhana seperti rokok-permen-kwaci. Mereka ini beraksi menawarkan barang dagangan kepada kita-kita para pengguna jalan. Tak peduli siang atawa malam, para pengasong itu menghampiri satu demi satu pengendara, mencoba menjual apa saja yang mungkin dijual demi seperak-dua laba.

merujuk pada KBBI, asong atau mengasong adalah istilah yang berarti sebuah aktivitas menjual dengan cara menyodor-nyodorkan sesuatu (dengan harapan agar dibeli). Sedangkan pengasong sendiri berarti orang yang mengasong. Yaitu orang yang menjual dengan cara menyodor-nyodorkan sesuatu dan berharap kita akan membelinya.

Dalam setiap masa kampanye politik kita kerap kali mendengar istilah jualan kecap untuk menunjukkan perilaku tim sukses (timses) yang sedang mengkampanyekan calon jagoannya. Mereka ini dengan penuh percaya diri akan selalu berusaha meyakinkan kita bahwa kecap miliknya adalah kecap terbaik. Terbuat dari kedelai hitam pilihan yang dirawat seperti istri simpanan sendiri.

img source

Dalam beraksi, para timses ini dituntut untuk tidak ragu-ragu bertebal-tebal muka. Bahkan diyakini, keberhasilan seorang politisi memenangkan kontestasi politik elektoral sangat dipengaruhi oleh ketebalan muka timsesnya. Semakin tebal itu muka, semakin besar pula peluang calonnya keluar sebagai juara. Ketebalan muka itu tentu saja berbading lurus dengan ketebalan dompet si calon. Semakin tebal dompet, maka semakin banyak jenis kosmetik yang di-siliek untuk mempertebal muka timsesnya. Dengan begitu, semakin mudah si politisi meraih kuasa.

Maka dari itu, semakin kesini aku pribadi menangkap kesan semakin banyak politisi yang berfikir persetan dengan politik gagasan. Tak ada guna visi-misi dan rencana kerja berpuluh halaman. Yang penting ianya punya timses yang tebal muka lagi militan.

Perilaku timses yang dengan muka tebal menyodor-nyodorkan calon jagoannya ini kurang lebih mirip seperti prilaku pedagang asongan. Dan seperti halnya pedagang asongan, timses ini juga berharap seperak-dua laba alih-alih ingin memperbaiki kondisi berbangsa. Tak peduli merk kecapnya apa, asal sanggup memberi biaya kosmetik, maka itu kecap akan di asong dengan segenap ketebalan muka.

Yang lebih parah dari itu tentu saja politisi asongan. Mereka adalah yang tanpa malu menyodor-nyodorkan dirinya sendiri untuk dipilih oleh masyarakat. Lewat konten-konten di media sosial pula dari meja ke meja di kedai kopi, ianya dengan percaya diri menjajakan dirinya sendiri. Sekali lagi, persetan politik gagasan. Yang penting ianya tembus ke gedung dewan atawa menjadi kepala pemerintahan. Aku tak tahu harus berkomentar apa untuk perilaku begini rupa. Namun aku bersyukur, seumur-umur belum pernah mendapat teman politisi asongan.

Teman-teman, kita semua tahu bahwa sebentar lagi pemilu. Aku harap kita waspada sebab politisi asongan ada dimana-mana. Nama atau fotonya ada disetiap lembar surat suara yang akan disodori petugas pemungutan suara kepada kita nantinya. Tak peduli itu pemilihan DPR, DPD, atawa Presiden sekalipun, para politisi asongan ini siap sedia nyodor-nyodorin kecapnya sendiri kepada kita. Oleh karena itu, jangan salah pilih kecap. Teliti sebelum membeli. Dan pastikan ada label halal dari MUI.

img source

 

Bandung, 16 Agustus 2018

 

Salam Manis

Bink Fernanda

Dari Panggung Hiburan Ke Panggung Politik Yang Sebenarnya Tidak Ada Panggungnya

Img Source

Dilansir dari laman detik.com, puluhan selebritis dikabarkan ikut bertarung menuju senayan pada pileg 2019 nanti. Satu diantara 59 artis itu adalah Krisdayanti. Anjiiiirrr…. Mau maju dari dapil mana mba Yanti? Timor Leste? hehehe…

Soal fenomena para pegiat panggung hiburan tanah air yang  mencoba peruntungan di panggung politik, aku sendiri tidak tahu kapan itu dimulai. Yang jelas, tahunya itu bulat. Digoreng dadakan. Lima ratusan. Kalau di Bandung, itu ada lagunya. Loh kok malah bahas tahu? Maksudku, fenomena itu seperti muncul begitu saja saat sistem pemilihan langsung anggota DPR mulai diterapkan di Indonesia.

Tak bisa dipungkiri memang, popularitas adalah salah satu modal penting menghadapi politik elektoral. Selain tentu saja elektabilitas dan isi-tas. Popularitas adalah modal yang paling dasar dimana semakin tinggi popularitas seseorang, maka semakin sering namanya beredar di masyarakat. Tak peduli beredar di meja-meja diskusi, disebut-sebut infotainment, atau menjadi bahan meu upat emak-emak sambil cari kutu. Yang penting terkenal dia itu.

Dengan modal popularitas, maka elektabilitas bisa dengan mudah di dongkrak. Tinggal bagaimana tim kerjanya memproduksi omong kosong yang akan di jual ke masyarakat. Misalnya si ini peduli sama masyarakat miskin atau si anu yang medukung pemberantasan korupsi. Semua itu bisa di atur bahkan dengan isu yang paling ngawur.

Hal tersebutlah mungkin yang membuat beberapa partai politik menggandeng para selebritas itu bergabung dalam squad calon wakil rakyat. Partai-partai itu berharap para artis ini bisa menjadi vote getter pada pileg nanti. Apalagi sekarang sistem perhitungan suara sudah menggunakan sistem saint lague murni (SLM). Seperti apa sistem SLM ini, bisa kau tanya sama KPU. Soalnya mereka memang digaji oleh negara untuk urusan itu.

Tapi bentar dulu, bagaimana dengan kinerjanya? Seingatku – dan tolong ingatkan lagi jika aku luput, hanya ada dua politisi dari kalangan selebriti yang secara kinerja layak di apresisasi. Mereka adalah Tantowi Yahya dari Partai Golkar dan Rieke Dyah Pitaloka dari PDI. Selebihnya, aku tak pernah dengar sepak terjangnya. Terlepas jika kalian mau bilang itu cuma gimmick di media.

Bukannya mau meremehkan, tapi ya coba saja kamu pikirkan, mau ngapain mereka nantinya di gedung parlemen sana? Emangnya menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah itu semudah pura-pura nangis di depan kamera? Atau mereka kira, melaksanakan tugas budgeting itu ribetnya sama dengan ikutan sinetron stripping? Jikapun ada staf ahli yang bakalan ngurus ini-itu terkait kerja-kerja di parlemen nanti, itu kan cuma sebagai tim pendukung. Tetap si anggota dewan yang harus di depan. Kalau cuma ngandalin staf ahli, bukannya itu berarti dianya memang ga mampu duduk disitu. Jika memang begitu, lantas kenapa ke-pede-an mau maju? Kan Asu!

Tapi bagaimanapun, itu adalah hak masing-masing orang. Hak dipilih dan memilih itu memang melekat pada diri kita sebagai warga negara. Siapa saja dibolehkan untuk menjadi calon wakil rakyat asal mencukupi persyaratan. Akunya cuma mau mengingatkan, modal popularitas saja tidak mencukupi untuk menjadi seorang anggota dewan. Kita sebagai pemilih harus sadar bahwasanya apapun latar belakangnya, orang yang nantinya kita pilih untuk mewakili kita di gedung parlemen sana harus benar-benar memiliki kapabilitas. Tidak peduli dia itu artis, pengusaha, atau mantan satpam sekalipun.

Aku hanya tidak mau kita sebagai pemilik hak suara menggunakan hak kita itu untuk memilih – katakanlah Annisa Bahar, hanya karena tergoda sama goyang ngebor-nya yang aduhai dan terindikasi bisa membuat sempit celana lelaki. Sebab percayalah, masalah kemiskinan, pengangguran, pemerataan pembangunan, pengawasan penggunaan anggaran, dan masih banyak an-an lainnya itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan goyang pinggul semata. Atau milih mas Primus karena dia itu Panji Manusia Millenium yang siap sedia membasmi kejahatan. Kecuali kamu percaya manusia sejahat Donclo yang rambutnya tegang-tegang seperti durian itu benar-benar ada di kenyataan. Sehingga kita butuh seorang Panji untuk membasminya.

Sekali lagi kutegaskan, semua itu kembali kepada masing-masing kita. Tapi yang jelas, sikapku begitu. Sebagai warga negara, aku hanya akan mempercayakan suaraku kepada orang-orang yang benar-benar mampu. Soal nantinya si calon pilihanku tidak terpilih, yasudah tidak apa-apa. Ngapain juga cari-cari pusing. Karena aku tidak merasa kehilangan pusing. Walaupun jika dipikir-pikir lagi, sebaiknya memang parlemen itu di isi oleh mereka-mereka itu. Para artis yang memang bisa akting itu. Soalnya kalau nanti mereka mau ikut-ikutan nabrak tiang listrik seperti si mantan ketua, akting mereka tidak akan sekampungan si Papa. Lagipula, sekarang ini atmosfir di dalam gedung dewan memang sedikit terasa seperti di Korea, terlalu banyak Drama!

Setelah Lalu Muhammad Zohri, Lalu Siapa Lagi?

Hola Steemians…

Beberapa hari belakangan ini rakyat Indonesia sedang gaduh-gaduhnya merayakan keberhasilan sprinter muda Indonesia Lalu Muhammad Zohri. Seperti yang telah kita ketahui, dik Zohri ini berhasil menjadi juara dunia lomba lari 100 M Putra atletik U-20 di Tempere, Finlandia. Akhirnya bisa ditebak, Zohri pun mendadak viral di sosial media. Lanjutkan membaca “Setelah Lalu Muhammad Zohri, Lalu Siapa Lagi?”

Nasi + B

“Abeh Breueh, Plot Lam APBA”

Pernyataan di atas adalah penggalan lirik lagu “Kanot Bu” yang diciptakan oleh saudara Reza Mustafa sekitar tahun 2008. Ketika itu, Komunitas Kanot Bu baru saja didirikan. Awalnya lagu tersebut hanya berbentuk puisi yang agak panjang. Fuady S Keulayu membuatnya menjadi lagu bernada agak kemelayu-melayuan. Dan kami sebagai penikmat lagu, tidak membantahnya. Lanjutkan membaca “Nasi + B”

Hijrah Online

photo: Pixabay.com

Hola Steemians….

Ga kerasa udah weekend aja. Sudah pada punya rencana mau liburan akhir pekan kemana? Buat kamu yang berdomisili di kota Banda Aceh dan sekitarnya, hati-hati ya. Soalnya cuaca diluar sedang kurang mendukung. Sudah beberapa hari ini hujan dan angin kencang menerpa. Lagian liburan kan ga harus keluar. Berselancar di dunia maya juga bisa kok dijadikan liburan kecil kalo cuaca diluar sedang buruk begini. Kamu bisa menghabiskan waktu dirumah untuk menulis konten di steemit atau sekedar scroll-scroll temlen istagram misalnya. Lanjutkan membaca “Hijrah Online”