Ke Lembang Untuk Senang!

Sudah berhari-hari di Bandung tapi belum sempat main kemana-mana itu ternyata tidak ada pengaruh apa-apa. Aku masih tetap hidup dan bernafas seperti biasa. Kukira, aku akan merasa menderita sebab sudah jauh-jauh kesini tapi cuma main ke Rumah The Panasdalam aja. Jika tidak menderita, minimal suntuk pasti melanda. Ternyata tidak, sebab akunya memang malas gerak.

Tapi bagaimanapun juga, hari itu akhirnya aku bersama si Raja dan Deni (bukan manusia ikan) akhirnya melaju ke arah Lembang. Jalan-jalan menuju Lembang jujur saja membawa ingatanku kembali ke masa lalu. Bukan karena dulunya aku pernah kesana. Bukan juga karena aku punya teman atau mantan pacar orang Lembang. Tapi karena apa? Yap! Sinetron Pernikahan Dini yang dulu sering ditonton ibuku saban malam minggu. Aku masih ingat Kak Gun yang diperankan oleh Syahrul Gunawan itu aslinya dari Lembang. Bahkan hingga saat ini, aku masih hafal sekali salah satu potongan dialog dalam sinetron tersebut: ”Kak Gun jahat!”. Itu dialog si Dini (Agnes Monica) saat sadar Nuga Kak Gun baru saja terpacak di selangkangannya. Dan adegan itu terjadi di salah satu villa di Lembang sana.

Kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Lembang sebab dua temanku itu besoknya akan kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan urusan masing-masing mereka. Saat itu kami juga ditemani sama si Didi yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Ianya anak Jatinangor yang karena kuliah di ISBI Bandung jadi harus nge-kos di daerah Buah Batu. Aku tak tahu si Didi yang punya nama asli Diana Novita itu ditemukan dimana sama si Deni. Mungkin saja Didi itu temannya. Yang jelas karena bantuan si Didi kami jadi tahu jalur alternatif menuju lembang tanpa harus melewati kawasan Setia Budi yang saat itu sedang ada Razia. Sebab tak satupun dari kami punya SIM A.

Selain kami berempat, juga ada tiga orang lainnya.  Ada Friko yang ikutan ke Bandung dari Jakarta, juga ada Vista yang oleh si Didi dipanggil Omah. Kalau yang satu lagi aku lupa namanya siapa. Soalnya dia jarang ikut ngumpul karena sibuk sama kerjaannya di depan komputer yang di jinjing kemana-mana. Lagipula kami menumpang mobil yang berbeda. Memang dia sempat memperkenalkan diri saat pertama jumpa, tapi kemudian aku jadi lupa ia punya nama.

Hari sudah beranjak siang saat kami tiba di jalan masuk pemandian air panas Gracia, Lembang. Meski sudah agak siang, cuaca di sekitar Lembang masih sejuk. Untuk menuju kesana kami harus melewati perkebunan teh yang menyebabkan kami terpaksa turun sejenak dari mobil untuk foto-foto. Kukatakan terpaksa karena memang dipaksa sama si Didi. Juga sekalian untuk membuktikan bahwa ulat-ulat memang benar rebutan pucuk daun teh pilihan seperti kata iklan di tivi.

Masuk ke Gracia ternyata harus bayar dulu 70.000. Boleh juga cuma bayar 45.000 asal umurmu kurang dari 14 Tahun. Relatif mahal memang, tapi sebanding dengan fasilitas yang ada. Beberapa kolam untuk berendam disana benar-benar bersih bak kolam kaca. Jauh betul dengan kondisi pemandian air panas *ie seuum* yang ada di seputaran Krueng Raya, Aceh Besar. Saat itu,tak ada satupun pengunjung di Gracia. Hanya ada kami yang membuat kolam air panas itu serasa milik pribadi. Kata si Didi, biasanya orang-orang ke sana itu mulai dari sore hingga malam jula.

Baiklah, kurasa sekian dulu aja. Soalnya sekarang aku lagi kerja. Kerja apa? Nanti aku cerita. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Bandung, 11 Agustus 2018

Salam Manis

 

@senja.jingga

Sepotong Kisah Tentang WordPress

Meja kerja di Harian Aceh pada 2010

Aku merasa beruntung. Mengenal WordPress saat empat tahun kemunculannya, saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah, akhir 2007. Waktu itu, jaringan internet baru saja masuk ke tanah kelahiranku Matangglumpangdua. Orang pertama yang mengenalkan blog adalah abang kandungku sendiri, si Pozan. Aku yang baru saja mulai tertarik menulis, dirayunya untuk menayangkan tulisan di blog. Aku setuju. Kemudian dia bikin blog beralamat azuel.wordpress.com. Lanjutkan membaca “Sepotong Kisah Tentang WordPress”