Dari Panggung Hiburan Ke Panggung Politik Yang Sebenarnya Tidak Ada Panggungnya

Img Source

Dilansir dari laman detik.com, puluhan selebritis dikabarkan ikut bertarung menuju senayan pada pileg 2019 nanti. Satu diantara 59 artis itu adalah Krisdayanti. Anjiiiirrr…. Mau maju dari dapil mana mba Yanti? Timor Leste? hehehe…

Soal fenomena para pegiat panggung hiburan tanah air yang  mencoba peruntungan di panggung politik, aku sendiri tidak tahu kapan itu dimulai. Yang jelas, tahunya itu bulat. Digoreng dadakan. Lima ratusan. Kalau di Bandung, itu ada lagunya. Loh kok malah bahas tahu? Maksudku, fenomena itu seperti muncul begitu saja saat sistem pemilihan langsung anggota DPR mulai diterapkan di Indonesia.

Tak bisa dipungkiri memang, popularitas adalah salah satu modal penting menghadapi politik elektoral. Selain tentu saja elektabilitas dan isi-tas. Popularitas adalah modal yang paling dasar dimana semakin tinggi popularitas seseorang, maka semakin sering namanya beredar di masyarakat. Tak peduli beredar di meja-meja diskusi, disebut-sebut infotainment, atau menjadi bahan meu upat emak-emak sambil cari kutu. Yang penting terkenal dia itu.

Dengan modal popularitas, maka elektabilitas bisa dengan mudah di dongkrak. Tinggal bagaimana tim kerjanya memproduksi omong kosong yang akan di jual ke masyarakat. Misalnya si ini peduli sama masyarakat miskin atau si anu yang medukung pemberantasan korupsi. Semua itu bisa di atur bahkan dengan isu yang paling ngawur.

Hal tersebutlah mungkin yang membuat beberapa partai politik menggandeng para selebritas itu bergabung dalam squad calon wakil rakyat. Partai-partai itu berharap para artis ini bisa menjadi vote getter pada pileg nanti. Apalagi sekarang sistem perhitungan suara sudah menggunakan sistem saint lague murni (SLM). Seperti apa sistem SLM ini, bisa kau tanya sama KPU. Soalnya mereka memang digaji oleh negara untuk urusan itu.

Tapi bentar dulu, bagaimana dengan kinerjanya? Seingatku – dan tolong ingatkan lagi jika aku luput, hanya ada dua politisi dari kalangan selebriti yang secara kinerja layak di apresisasi. Mereka adalah Tantowi Yahya dari Partai Golkar dan Rieke Dyah Pitaloka dari PDI. Selebihnya, aku tak pernah dengar sepak terjangnya. Terlepas jika kalian mau bilang itu cuma gimmick di media.

Bukannya mau meremehkan, tapi ya coba saja kamu pikirkan, mau ngapain mereka nantinya di gedung parlemen sana? Emangnya menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah itu semudah pura-pura nangis di depan kamera? Atau mereka kira, melaksanakan tugas budgeting itu ribetnya sama dengan ikutan sinetron stripping? Jikapun ada staf ahli yang bakalan ngurus ini-itu terkait kerja-kerja di parlemen nanti, itu kan cuma sebagai tim pendukung. Tetap si anggota dewan yang harus di depan. Kalau cuma ngandalin staf ahli, bukannya itu berarti dianya memang ga mampu duduk disitu. Jika memang begitu, lantas kenapa ke-pede-an mau maju? Kan Asu!

Tapi bagaimanapun, itu adalah hak masing-masing orang. Hak dipilih dan memilih itu memang melekat pada diri kita sebagai warga negara. Siapa saja dibolehkan untuk menjadi calon wakil rakyat asal mencukupi persyaratan. Akunya cuma mau mengingatkan, modal popularitas saja tidak mencukupi untuk menjadi seorang anggota dewan. Kita sebagai pemilih harus sadar bahwasanya apapun latar belakangnya, orang yang nantinya kita pilih untuk mewakili kita di gedung parlemen sana harus benar-benar memiliki kapabilitas. Tidak peduli dia itu artis, pengusaha, atau mantan satpam sekalipun.

Aku hanya tidak mau kita sebagai pemilik hak suara menggunakan hak kita itu untuk memilih – katakanlah Annisa Bahar, hanya karena tergoda sama goyang ngebor-nya yang aduhai dan terindikasi bisa membuat sempit celana lelaki. Sebab percayalah, masalah kemiskinan, pengangguran, pemerataan pembangunan, pengawasan penggunaan anggaran, dan masih banyak an-an lainnya itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan goyang pinggul semata. Atau milih mas Primus karena dia itu Panji Manusia Millenium yang siap sedia membasmi kejahatan. Kecuali kamu percaya manusia sejahat Donclo yang rambutnya tegang-tegang seperti durian itu benar-benar ada di kenyataan. Sehingga kita butuh seorang Panji untuk membasminya.

Sekali lagi kutegaskan, semua itu kembali kepada masing-masing kita. Tapi yang jelas, sikapku begitu. Sebagai warga negara, aku hanya akan mempercayakan suaraku kepada orang-orang yang benar-benar mampu. Soal nantinya si calon pilihanku tidak terpilih, yasudah tidak apa-apa. Ngapain juga cari-cari pusing. Karena aku tidak merasa kehilangan pusing. Walaupun jika dipikir-pikir lagi, sebaiknya memang parlemen itu di isi oleh mereka-mereka itu. Para artis yang memang bisa akting itu. Soalnya kalau nanti mereka mau ikut-ikutan nabrak tiang listrik seperti si mantan ketua, akting mereka tidak akan sekampungan si Papa. Lagipula, sekarang ini atmosfir di dalam gedung dewan memang sedikit terasa seperti di Korea, terlalu banyak Drama!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *