Hijrah Online

photo: Pixabay.com

Hola Steemians….

Ga kerasa udah weekend aja. Sudah pada punya rencana mau liburan akhir pekan kemana? Buat kamu yang berdomisili di kota Banda Aceh dan sekitarnya, hati-hati ya. Soalnya cuaca diluar sedang kurang mendukung. Sudah beberapa hari ini hujan dan angin kencang menerpa. Lagian liburan kan ga harus keluar. Berselancar di dunia maya juga bisa kok dijadikan liburan kecil kalo cuaca diluar sedang buruk begini. Kamu bisa menghabiskan waktu dirumah untuk menulis konten di steemit atau sekedar scroll-scroll temlen istagram misalnya.

Ngomong-ngomong soal Instagram, aku mau cerita sesuatu. Aku merasa belakangan ini kok ada yang beda ya di temlen IG aku. Dan setelah kutelusuri dan perhatikan dengan seksama aku akhirnya sadar akan sesuatu: Temlenku mulai banyak postingan cewe bercadar! Mulanya aku bingung, sejak kapan aku follow akun begitu rupa? Bukan apa-apa, seingatku aku tidak punya teman yang bercadar.

Tapi sebelum aku lanjut lebih jauh, aku mau ngasih tau dulu bahwa tidak ada tendensi apapun dalam tulisan ini. Aku cuma mau curhat saja. Soal pilihan hidup, masing-masing kita punya kuasa atas diri kita sendiri. Dan sebagaimana aku ingin dihargai atas pilihan hidupku, maka begitu pula aku selalu menghargai pilihan hidup orang lain.

Kembali ke laptop!

Aku tentu penasaran siapa gerangan yang ada di balik cadar itu. Mulai dari situ aku langsung stalking siapa yang punya akun. Dari beberapa pemilik akun yang kutelusuri itu, aku akhirnya paham kalau ternyata mereka-mereka itu pakai cadar sebab mengaku sudah berhijrah. Tapi dari beberapa akun yang ku pantau, ada dua orang yang membuatku agak sedikit takjub. ialah akunnya si Vani dan Aggrek. Keduanya tentu nama pura-pura. Tapi kalau kamu emang termasuk golongan kepo setengah dewa, sila japri saja. Nanti kuberitahu nama aslinya.

Kita mulai dengan si Vani. Dia itu aku kenal pada suatu malam di kota Medan. Waktu itu aku bersama teman-teman sedang liburan dan si Vani juga begitu bersama teman-temannya. Dia mengaku tinggal di kota tak jauh dari Medan, tapi masih dalam provinsi Aceh juga. Tak usahlah kusebut nama. Jadi kenalan ku itu sebagaimana anak muda seusianya terbiasa hidup dalam hingar-bingarnya dunia malam. Aku tak mengatakan dia sebagai wanita murahan karena memang bukan. Katanya dia cuma suka party, bukannya mau jual diri. Sebab memang berasal dari keluarga yang cukup berada.

Dan seperti yang kita ketahui, mana ada orang ke party pake gamis? Jadi tanpa perlu kujelaskan lebih detail – karena nanti banyak yang otaknya jadi ngeres karena baca postingan ini, kamu tentu sudah bisa membayangkan seperti apa penampilan si Vani itu. Kalo soal body, aku berani kasih angka 8/10. Kulitnya juga putih bersih. Nah, itu tadi first impression ke si Vani.

Anggrek lain lagi. Aku sebenarnya tak pernah kenal langsung dengan si Anggrek ini. Dia itu teman sekolah mantan pacarku dulu. Jadi aja kami saling follow. Sebelum memutuskan untuk hijrah, sepengetahuanku Anggrek itu seorang artist yang sering tampil di berbagai cafe pada sebuah kota di selatan sumatera. Dia biasanya nyanyi atawa menjadi dancer gitu. Dan kau bisa bayangkan seperti apa penampilannya dulu.

Steemian, hal yang kemudian membuat aku sedikit mengerutkan dahi adalah di laman Instagram keduanya, berderet banyak sekali foto dengan latar belakang berbeda-beda. Ada swafoto di pantai, juga foto ala-ala selebgram di cafe. Baik di IG Vani atawa Anggrek sama saja. Keduanya masih doyan unggah foto diri dengan berbagai gaya seperti dulu. Namun kini telah dibungkus dengan cadar dan gamis beraneka warna yang menjulur  di sekujur tubuh.

Aku sangat menghargai orang-orang yang saat ini bisa istiqamah menjalankan perintah agama. Jujur saja aku iri dan ingin sekali bisa seperti mereka. Bukan soal pakai cadarnya, tapi urusan memantapkan hati menuju kearah yang lebih baik sesuai dengan tuntunan agama. Soalnya sekarang ini urusan yang wajib saja aku masih keteteran sekali dua. Oleh karena itu untuk teman-teman yang telah menemukan jalan ‘kembali’ dari kehidupan duniawi yang seakan tak ada habisnya ini, aku harus angkat topi.

Tapi masalahnya ada yang mengganjal di hati melihat dua postingan Instagram temanku itu. Mereka berdua entah bagaimana ceritanya kini menekuni sebuah profesi yang sama. Apalagi kalau bukan profesi yang sangat kekininian sekali: Buka Olshop! Dan produk yang dijual tidak lain tidak bukan adalah gamis dan pernak-perniknya. Aku mengetahui tentang profesi yang kini mereka geluti dari caption-caption yang mereka buat pada setiap foto yang di unggah. Yaitu berisi info soal bahan, harga, dan cara memesan itu barang.

Jujur saja aku mulai curiga, kawan ini betulan hijrah atau gimana. Jangan-jangan dia cuma….. Anjrit! rupanya betul. dia cuma jualan olshop aja!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *