Judul di Belakang dan Sepenggal Alasan Dibaliknya

Sebagian kita mungkin akan langsung teringat akan lagu Belum Ada Judul (1992) yang dinyanyikan Iwan Fals ketika pertama melihat lapik buku Judul di Belakang (JdB). Namun, benarkah pemilihan judul buku yang diterbitkan Tansopako Press ini terinspirasi dari lagu tersebut?

Sore itu, pertengahan Desember 2017, Zulham (@zeds) baru saja selesai mengerjakan tata letak sebuah buku. Buku itu diklaim sebagai buku pertama di dunia yang berisi kumpulan tulisan di @steemit. Didalamnya dimuat karya delapan orang Steemian Usaha Sempena Steemian Reaksioner -belakangan di ubah menjadi Usaha Skrin Syut Revolusi (USSR). Mereka adalah para steemian yang bergiat di Komunitas Kanot Bu

Setelah menghabiskan waktu kira-kira sebulan lamanya untuk proses kurasi dan editing, akhirnya buku tersebut siap untuk dicetak. Namun saat itu kawan-kawan di @kanotbu masih bingung soal judul apa yang layak disematkan pada buku tersebut. Pada desain sampul yang baru saja selesai di kerjakan Zulham tertera Maria dan Celana Dalamnya sebagai judul sementara. Judul itu diambil dari salah satu tulisanku dalam buku itu.

Ditemani dengan bergelas-gelas kopi dan rokok yang disulut nyaris tak putus-putus, diskusi tentang pemberian judul buku tersebut bergulir. Masing-masing orang yang ada menawarkan gagasannya untuk kemudian ditimbang cocok-tidaknya. Soalnya, judul yang ada dianggap sedikit tidak ramah pustaka. Kami merasa judul tersebut sedikit cabul, sehingga tidak sesuai dengan rencana kami untuk dibagikan untuk pustaka-pustaka swakelola.

Menjelang magrib, saya lupa persisnya entah dari mulut siapa, muncul sebuah ide untuk membuat judul buku yang mengingatkan kita akan peliknya birokrasi di Indonesia. Kau tahu sendiri, untuk mengurus selembar surat saja, sistem pengelolaan pemerintahan membuat kita harus melewati bermeja-meja terlebih dahulu. Mulai dari meja resepsionis kantor hingga kepada meja di ruang Kepala. Aku yakin sebagian besar kita pernah tahu seperti apa rasanya ‘dibola-bola’ ketika berurusan dengan instansi pemerintahan.

Lalu kemudian muncul kalimat Judul di Belakang yang kira-kira sama celakanya dengan jawaban “Coba tanya sama bapak itu” yang kerap kita dapat saat bertanya sesuatu di kantor-kantor pemerintahan. Namun mudah ditebak, saat kita datang dan bertanya kepada ‘Bapak Itu’, si bapak malah menyuruh kita untuk bertanya kepada ‘bapak’ yang lain lagi. Begitu seterusnya sampai mereka puas melihat muka kita berubah serupa sempak putus karet. Kampret!

Maka dari itu, pada lapik belakang buku JdB diterakanlah kalimat Judul Ada di Dalam. Maksudnya sama dengan ‘Bapak Itu’ yang nyuruh kita nanya ke bapak yang lain lagi. Dengan kalimat itu kami mau nyuruh orang yang berusaha mencari judul buku itu di sampul belakang untuk mencari judulnya di bagian dalam buku saja.

Pimpinan majalah potret Tabrani Yunis (@tabraniyunis) menyebut ide pemberian judul buku ini sebagai suatu “ide gila, tapi pasti kreatif”. Ia bahkan mengaku sangat tertarik dan baru pertama kali menemukan buku dengan judul seperti itu. Tapi sebenarnya, apakah judul buku itu benar-benar ada di dalam?

Pada sebuah halaman dalam buku setebal 64 halaman itu, kau bisa menemukan ‘judul’ yang dimaksud. Ialah pada halaman daftar isi, kami menggunakan kalimat “judul-judul yang kami maksud itu” sebagai pengganti kata “Daftar Isi” yang lazim digunakan pada buku-buku lainnya. Tentunya bersama informasi subjudul dan halamannya juga.

Tapi tentu subjudul itu bukan judul buku kami. Judulnya tetap saja Judul di Belakang. Perkara judulnya benar-benar dicari pada sampul belakang oleh orang-orang, itu resiko. Salah sendiri terlalu kepo!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *