Kopi Dini hari di Lageun Aceh Jaya

 

Kupikir, angin yang bertiup di sela bebatuan bukit-bukit kering sepanjang pantai pada dini hari itu, tak pernah berhenti dari sejak Adam dan Hawa diasingkan ke dunia. Seperti juga nafas mini bus sempati star yang dilarikan dari Blang Pidie malam itu, menabrak-nabrak angin yang berhembus searah dari laut yang menganga. Di belakang kedai makan lageun, ombak berteriak dalam gelap dan gemuruh tiada henti. Kopi kuaduk dalam hoyong luar biasa. Kubakar sebatang rokok sambil mengingat-ingat perjalanan malam melelahkan. Sopir yang ugal-ugalan, kursi penumpang yang tempat bersandarnya telah copot hingga jam yang bergerak lambat.

Tak ada yang menggembirakan perjalanan ke daerah barat-selatan di waktu malam. Selain minum kopi di Lageun. Kopi bubuk lokal yang aromanya khas dan gurih ampasnya buat ditelan. Rokok terasa menemukan jodohnya dini hari itu.

Aku tidak tahu alasan kenapa perjalanan ke daerah barat-selatan dilakukan pada malam hari. Sementara jalur pantai timur-utara Aceh kapan waktu siap mengantar penumpang hingga ke Medan. Bagiku, ini sangat menyiksa dan membatasi penumpang yang sesekali melakukan perjalanan ke barat-selatan untuk menikmati indahnya garis pantai Samudera Hindia. Pemerintah di kabupaten barat-selatan sepertinya suka gelap-gelapaan dalam memberlansungkan apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *