Kualitas Atau Rating, Mana Yang Lebih Penting?

Ini hari genap tiga bulan aku menapak tanah jawa. Secara durasi, kali ini adalah waktu paling lama aku di sini. Aku memilih Bandung sebagai ‘rumah’ sementara karena beberapa alasan. Salah duanya adalah soal kerjaan dan disini, aku punya beberapa kenalan. Mereka adalah orang – orang yang membuatku merasa punya keluarga baru di perantauan.

Tiga bulan berada disini, aku juga mulai berani jalan sendiri. Memang saat ini kehadiran aplikasi transportasi online sangat membantu orang-orang sepertiku. Tapi maksudku itu, aku mulai hafal beberapa jalan dan bisa mengendarai motor sendiri untuk bepergian ke berbagai tempat tanpa harus bergantung pada aplikasi peta online. Meski sesekali harus nyasar seperti kemarin saat aku menuju ke Asrama Aceh di jalan Belimbing untuk mengambil beberapa tangkai daun kari.

Selama di sini aku juga berkenalan dengan beberapa teman baru. Salah satu yang paling membekas dalam benakku adalah pertemuan dengan mereka; para penulis skenario sinetron dan Film televisi (FTV). Kebetulan hari itu aku diminta @mariska.lubis untuk menemani mereka bertemu Ayah Pidi. Jadilah aku menuju Rumah The Panasdalam siang itu untuk menunaikan janji. Yaitu janji kepada Mariska untuk menemui teman-teman penulis skenario sinetron itu tadi.

Setelah seremoni perkenalan dan sedikit basa-basi, kami akhirnya mulai berbincang ringan sambil menunggu kedatangan si Ayah. Dari kang Budi aku mendapat kabar si Ayah sedang menyelesaikan rekaman di salah satu studio di kawasan Ciwastra. Ada dua lagu yang masih harus diselesaikan katanya, dan perkiraanku itu berarti akan memakan waktu paling tidak tiga jam lamanya.

Dari teman-teman baruku – yang kebetulan semuanya berkelamin wanita –  aku mendapat gambaran seperti apa industri sinetron dan FTV itu bekerja. Mereka mengaku harus saban minggu menyetorkan minimal dua sinopsis cerita pada hari tertentu. Setelah sinopsis tersebut diterima, maka tulisan itu akan dikembangkan menjadi skenario dan seterusnya. Hingga pada akhirnya tayang di televisi untuk kita saksikan bersama keluarga.

Pada hari itu aku baru tahu jika mereka-mereka itu tidak bekerja langsung pada stasiun televisi atau Production House manapun. Mereka bekerja untuk satu orang yang telah dikontrak oleh PH sebagai penulis skenario. Jadi serupa Ghost Writer yang bersembunyi dibalik layar dan menulis atas nama orang lain. Bagi mereka itu tidak masalah sebab dianggap bagian dari proses.

boro-boro dikontrak PH, emangnya kita siapa? Belum punya nama juga”, begitu kata si perempuan mungil yang pakai kacamata. Maksudnya mereka itu belum populer sebagai penulis. Kalau nama sudah pasti punya sebab diberi oleh orang tua. “Kami mah, yang penting dapat duit, hihi…”, tambah teman yang satunya usai berswafoto dengan gawainya.

Itu hari aku juga sempat menggugat mereka perihal sinetron dan FTV di Indonesia yang – bagi sebagian netizen – dianggap tidak mendidik. Ceritanya juga itu-itu saja. Mulai dari perkara jatuh cinta paska tabrakan yang membuat buku-buku si cewek berserakan hingga soal asmara si miskin dan si kaya yang kalau dipikir-pikir too good to be true. Dari segi judul, itu sinetron atau FTV juga bisa bikin pusing kita punya kepala. Misalnya “Anakku Menjadi Anak Mantan Suamiku” atau “Istriku Lupa Kami Bangkrut”. Pikirkan sendiri, judul macam apa ini? Belum lagi di beberapa episode kerap kita temukan dialog dan adegan yang berkelindan dengan tindak kekerasan.

Teman-temanku itu menanggapi bahwasanya tidak semua PH memproduksi sinetron begitu rupa. Mereka menyebut istilah Hardcore untuk sinetron dan FTV yang memuat unsur maki-jambak-tampar itu. Dan secara tersirat mereka menolak disalahkan atas penayangan tontotan kurang mendidik versi netizen sok moralis tersebut. “Kan, kita kerja sesuai permintaan penulis naskah dari PH nya. Lagian yang Hardcore begituan ratingnya tinggi. Itu berarti masyarakat kita nerima”, bantah mereka.

Mendengar jawaban mereka aku cuma bisa senyam-senyum saja. Soalnya aku geli sendiri membayangkan jika pelaku industri terus-terusan mengikuti permintaan pasar. Sebab jika mereka terus memproduksi barang sesuai keinginan konsumen, maka bukan tidak mungkin hari ini kita masih mengendarai kuda kemana-mana. Kenapa? Begini ceritanya.

Dahulu kala, harga satu unit mobil sangatlah mahal karena proses produksinya yang terbatas. Oleh karena itu, hanya golongan kaya raya saja yang dapat memiliki mobil. Sedangkan sebahagian besar masyarakat masih menggunakan kuda sebagai sarana transportasi mereka. Hingga seorang Henry Ford, pendiri Ford Motor Company pada tahun 1908 memproduksi mobil secara massal pertama di dunia. Produksi massal itu mampu menekan biaya produksi sehingga harga jual mobil model-T pabrikan Ford tersebut menjadi lebih terjangkau.

Saat itu golongan masyarakat ekonomi kelas menengah tentu tidak pernah terpikir untuk memiliki mobil oleh karena harganya yang mahal. Nah, jika Henry Ford menggunakan logika PH sinetron dan FTV di Indonesia, ia tentu akan mengikuti selera pasar. Apa yang di inginkan masyarakat saat itu? Tentu saja kuda yang lebih kuat dan cepat alih-alih sebuah alat transportasi alternatif serupa mobil. Maka dari itu jika dahulu Henry Ford tidak berani melabrak permintaan pasar, mungkin saat ini kita akan mengenal Ford sebagai peternakan kuda, bukan produsen mobil terkemuka.

Jadi bagiku, tak masuk akal jika sebuah PH memproduksi tontonan bagi masyarakat hanya untuk mengejar rating semata. Selayaknya bisnis, inovasi adalah suatu hal yang niscaya. Dan pelaku industri pertelevisian punya tanggung jawab untuk mencerdaskan masyarakat melalui program-program yang ditayangkannya. Jadi kenapa harus seragam dan tidak berani menampilkan sesuatu yang beda? Soalnya bagaimana masyarakat bisa memilih tontonan yang berkualitas jika semua channel di televisi tayangannya begitu rupa?

 

Bandung, 24 September 2018

Img Source 1, 2, 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *