Menulis Untuk Apa?

img source

Menulis adalah salah satu bentuk self healing bagi seorang @alaikaabdullah. jujur saja aku tidak mengerti bagaimana baginya menulis bisa menjadi seperti itu. Juga tak pernah kepikiran untuk menguliknya lebih jauh. Bagiku, aktivitas menulis bagi masing-masing orang tentu memiliki tujuannya sendiri.

Sebahagian orang menganggap menulis adalah untuk hidup. Mereka ini mungkin adalah para penulis profesional yang menyambung hidup dari deretan kata yang dirangkainya. Tak peduli tulisannya masuk koran atawa dicetak dalam bentuk buku, asal menghasilkan uang selesai itu perkara.

Sebahagian lain menganggap menulis adalah bentuk lain dari tamasya. Tamasya pikiran lebih tepatnya. Dan orang-orang ini kusangka adalah mereka yang menulis karena suka. Untuk kelompok yang ini, setahuku @sangdiyus adalah salah satunya. Setidaknya begitu yang ia tulis pada bio akun steemitnya.

img source

Namun tak jarang kita menemukan orang-orang yang punya alasan yang lebih idealis. Mereka beranggapan bahwa menulis adalah kerja-kerja peradaban. Adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk mencatat sesuatu agar tak begitu saja menguap dari ingatan. Tulisan menjadi serupa alat rekam laju zaman yang dengannya, generasi mendatang bisa mengetahui apa yang terjadi pada hari ini.

Aku juga punya alasan sendiri untuk menulis. Bagiku ini adalah suatu kemampuan yang penting untuk aku kuasai oleh karena aktivitasku saat ini.  Bahwasanya dalam dunia politik, penyebarluasan gagasan adalah hal yang lebih penting tinimbang pancaragam strategi kampanye. Dan bagi seorang politisi, hal itu mutlak harus dilakukan demi tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Adalah sebuah kewajiban untuk memberi pendidikan politik bagi konstituen alih-alih memecah-belah mereka demi hasrat merengkuh kuasa.

Menulis bagiku adalah cara untuk menjabarkan gagasan dan tulisan adalah media penyebarluasan gagasan itu tadi. Kita bisa saja bertukar pikiran melalui diskusi tatap muka namun hal tersebut memiliki batasan ruang dan waktu. Tapi melalui tulisan, gagasan-gagasan itu akan terbang menjangkau tempat yang bahkan tak pernah mungkin kujamahi. Melalui tulisan, sebuah gagasan akan terus menyebar bahkan saat si penggagas tengah memproduksi liur di atas dipan.

img source

Namun jauh hari sebelum aku sadar akan pentingnya belajar menulis, ada suatu kejadian. Itu adalah kejadian yang pada akhirnya berakibat kepada kondisi kejiwaanku. Istilah medisnya: trauma. Setelah mengalami kejadian tersebut, aku menjadi trauma terhadap hal-hal serupa ataupun yang terkait dengannya. Saat itu, seorang teman yang secara usia terpaut jauh diatasku mengatakan ada baiknya aku menuliskan pengalaman buruk tersebut agar tidak terus menerus terbayang dalam ingatan.

Butuh waktu berminggu-minggu sehingga aku melakukan apa yang ia sarankan. Dengan segala keterbatasan kemampuan meracik kalimat saat itu, aku menuangkan segalanya kedalam deretan kata. Dan ajaibnya, hanya butuh beberapa hari aku mulai merasa pulih dari trauma yang ku alami. Aku mulai berani kembali beraktivitas seperti sedia kala dan perlahan mulai melupakan segalanya. Dan apa yang kutulis saat itu hingga kini kusimpan sebagai bentuk penghargaan atas saran si kawan.

Ibarat sebuah perangkat penyimpanan data, otak kita merekam banyak sekali hal baik disengaja ataupun tidak. Kita seringkali mendapati diri tanpa kuasa untuk memilah mana yang harus dilupakan dan mana yang harus tetap disimpan dalam ingatan. Dari apa yang aku alami, aku menjadi mengerti seperti apa caranya mengahapus data dalam memori kepala dan memindahkannya kedalam bentuk tulisan. Dan oleh sebab itu aku jadi punya alasan lain kenapa aku menulis. Aku menulis untuk melupakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *