Politisi Asongan

img source

Bulan-bulan belakangan ini dan bisa dipastikan berbulan-bulan selanjutnya, hidup kita akan terusik dengan hiruk pikuk pesta politik. Tapi sebelum aku mulai, kutegaskan tulisan ini tidak bermaksud untuk mengarahkan pilihan rakan sekalian. Hanya kontemplasi pribadi atas kerja-kerja politik yang selama ini yang kujalani.

Lazim kita temukan di simpang-simpang jalan baik yang ada traffic light-nya ataupun tidak, para pedagang asongan berseliweran menjajakan dagangannya. Ada yang menenteng minuman ringan botolan, menawarkan tissu wajah, pula barang paling sederhana seperti rokok-permen-kwaci. Mereka ini beraksi menawarkan barang dagangan kepada kita-kita para pengguna jalan. Tak peduli siang atawa malam, para pengasong itu menghampiri satu demi satu pengendara, mencoba menjual apa saja yang mungkin dijual demi seperak-dua laba.

merujuk pada KBBI, asong atau mengasong adalah istilah yang berarti sebuah aktivitas menjual dengan cara menyodor-nyodorkan sesuatu (dengan harapan agar dibeli). Sedangkan pengasong sendiri berarti orang yang mengasong. Yaitu orang yang menjual dengan cara menyodor-nyodorkan sesuatu dan berharap kita akan membelinya.

Dalam setiap masa kampanye politik kita kerap kali mendengar istilah jualan kecap untuk menunjukkan perilaku tim sukses (timses) yang sedang mengkampanyekan calon jagoannya. Mereka ini dengan penuh percaya diri akan selalu berusaha meyakinkan kita bahwa kecap miliknya adalah kecap terbaik. Terbuat dari kedelai hitam pilihan yang dirawat seperti istri simpanan sendiri.

img source

Dalam beraksi, para timses ini dituntut untuk tidak ragu-ragu bertebal-tebal muka. Bahkan diyakini, keberhasilan seorang politisi memenangkan kontestasi politik elektoral sangat dipengaruhi oleh ketebalan muka timsesnya. Semakin tebal itu muka, semakin besar pula peluang calonnya keluar sebagai juara. Ketebalan muka itu tentu saja berbading lurus dengan ketebalan dompet si calon. Semakin tebal dompet, maka semakin banyak jenis kosmetik yang di-siliek untuk mempertebal muka timsesnya. Dengan begitu, semakin mudah si politisi meraih kuasa.

Maka dari itu, semakin kesini aku pribadi menangkap kesan semakin banyak politisi yang berfikir persetan dengan politik gagasan. Tak ada guna visi-misi dan rencana kerja berpuluh halaman. Yang penting ianya punya timses yang tebal muka lagi militan.

Perilaku timses yang dengan muka tebal menyodor-nyodorkan calon jagoannya ini kurang lebih mirip seperti prilaku pedagang asongan. Dan seperti halnya pedagang asongan, timses ini juga berharap seperak-dua laba alih-alih ingin memperbaiki kondisi berbangsa. Tak peduli merk kecapnya apa, asal sanggup memberi biaya kosmetik, maka itu kecap akan di asong dengan segenap ketebalan muka.

Yang lebih parah dari itu tentu saja politisi asongan. Mereka adalah yang tanpa malu menyodor-nyodorkan dirinya sendiri untuk dipilih oleh masyarakat. Lewat konten-konten di media sosial pula dari meja ke meja di kedai kopi, ianya dengan percaya diri menjajakan dirinya sendiri. Sekali lagi, persetan politik gagasan. Yang penting ianya tembus ke gedung dewan atawa menjadi kepala pemerintahan. Aku tak tahu harus berkomentar apa untuk perilaku begini rupa. Namun aku bersyukur, seumur-umur belum pernah mendapat teman politisi asongan.

Teman-teman, kita semua tahu bahwa sebentar lagi pemilu. Aku harap kita waspada sebab politisi asongan ada dimana-mana. Nama atau fotonya ada disetiap lembar surat suara yang akan disodori petugas pemungutan suara kepada kita nantinya. Tak peduli itu pemilihan DPR, DPD, atawa Presiden sekalipun, para politisi asongan ini siap sedia nyodor-nyodorin kecapnya sendiri kepada kita. Oleh karena itu, jangan salah pilih kecap. Teliti sebelum membeli. Dan pastikan ada label halal dari MUI.

img source

 

Bandung, 16 Agustus 2018

 

Salam Manis

Bink Fernanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *