RSJ; Ruang Pengetahuan

Aku lupa tanggal persisnya; malam itu, diawal tahun 2017, aku, Reza Mustafa a.k.a @bookrak, Idrus a.k.a @marxause ngobrol panjang soal riuhnya balas membalas pantun dalam penganggaran daerah di Aceh. Objek pembicaraan bukan tentang bagaimana praktik buruk dalam perencanaan anggaran yang menyebabkan Aceh selalu terlambat melakukan pengesahaan anggaran. Tapi pembicaraan kami lebih banyak menyerempet pada orang-orang yang berkomentar tentang hal tersebut, namun jauh dari subtansi (atau lebih tepatnya ‘ngawur’).

Tak hanya pada topik anggaran daerah, komentar-komentar ‘ngawur’ juga banyak hilir-mudik didepan mata untuk isu yang lain. Banyaknya platform media sosial, memberi ruang bagi siapapun untuk mengeluarkan pendapat. Hingga kadang tanpa sadar, latah berkomentar pada hal yang sama sekali tak dipahaminya.

Tak hanya orang awam, orang-orang dengan sederet gelar akademik-pun banyak yang berpolah sama. Aku tak tau pasti, mungkin mereka sekedar ingin menunjukkan eksistensinya atau sekedar ingin terlihat *up to date*. Tapi yang jelas, komentar-komentar lucu itu berseleweran di depan muka kita.

Malam itu, setelah ngobrol panjang lebar, kami bersepakat membuka ruang belajar bersama. Ruang belajar yang tak hanya dapat dimanfaatkan oleh orang-orang bivak, tapi juga untuk umum (pastinya bagi yang berminat). Sebagai sebuah komunitas yang mengusung kritik sosial dalam berkarya, orang bivak ingin menggali materi yang menjadi bahan utama dalam sebuah karya, baik rupa, musik maupun karya tulis. Satu hal yang menjadi tujuan, agar tak ikut ‘ngawur’ dalam merespon isu.

Malam itu pula, kelas belajar tersebut diberi nama RSJ (Ruang Studi Jamaah) kanotbu. Ruang dimana semua orang bebas ‘menggali’ pengetahuan sesuai isu yang dipilih dalam setiap kali RSJ digelar. Konsepnya, pada tiap pertemuan, orang bivak akan mengundang narasumber yang dianggap paham isu yang akan dibahas.

RSJ kanotbu memberi 2 metode bagi ‘pasiennya’. Ada pilihan rawat inap dan rawat jalan. Untuk tema-tema berjilid, memerlukan beberapa kali pertemuan, kami membuka kelas rawat inap. Sedangkan materi ringkas tanpa perlu pertemuan lanjutan, kami membuka kelas rawat jalan.

Begitulah RSJ kanotbu telah bergulir. Sejak digelar pertama sejak awal 2017, telah beberapa isu telah dikupas. Mulai dari isu anggaran, perampasan lahan hingga isu lingkungan. Ketika ada hal baru yang ingin digali lebih dalam, RSJ segera digelar. Tentunya akan dibahas dengan orang yang paham akan hal tersebut, serta orang tersebut bersedia membagikan pengetahuannya. Seperti kalimat yang sering terlontar di bivak; “sekolah telah mati, kami mencari ruang belajar sendiri”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *