Sepotong Kisah Tentang WordPress

Meja kerja di Harian Aceh pada 2010

Aku merasa beruntung. Mengenal WordPress saat empat tahun kemunculannya, saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah, akhir 2007. Waktu itu, jaringan internet baru saja masuk ke tanah kelahiranku Matangglumpangdua. Orang pertama yang mengenalkan blog adalah abang kandungku sendiri, si Pozan. Aku yang baru saja mulai tertarik menulis, dirayunya untuk menayangkan tulisan di blog. Aku setuju. Kemudian dia bikin blog beralamat azuel.wordpress.com.

Dulunya, aku tidak tahu apa-apa soal internet. Karena sudah akrab dengan komputer jauh sebelum internet masuk. Maka bukan hal yang sulit bagiku membedah sistem manajemen layanan wordpress. Sejak punya blog, aku semakin keranjingan menulis. Bahkan, aku sering memamerkan tulisan di blog kepada kawan di bangku sekolah menengah kelas tiga. Tentu saja mereka tidak tertarik sama sekali.

Keberuntungan lainnya turut menimpaku. Saat hijrah ke Kutaraja melanjutkan kuliah, aku sudah bekerja di Harian Aceh (HA), salah satu koran harian yang sempat tersohor di Aceh. Aku masuk bagian penata letak halaman koran. Di Harian Aceh, sela-sela menggenjot ilmu Layout Design, aku mendalami aplikasi blog WordPress, seiring juga menulis sealakadarnya sesuai kemampuan waktu itu.

Selain WordPress aku mengenal Joomla, sistem media blog yang hampir sama dengan WordPress. Joomla waktu itu termasuk sistem yang sulit dipelajari. Dalam perjalanannya Joomla kemudian terpuruk dan terlupakan. WordPress yang mengusung sistem kerja yang lebih sederhana menikung Joomla, juga sistem blog open source lainnya yang hampir sama seperti Magento dan Drupal. Mirip seperti sistem operasi pada Nokia dan Blackberry yang karam setelah kemunculan Android.

WordPress (WP) secara sederhana dapat kukata adalah layanan gratis manajemen konten untuk menampung dan membuat tulisan, foto dan video. Dengan konfigurasi sederhana pengguna dapat membuat blog di alamat wordpress.com. WP juga tersedia untuk pengembang yang paham bahasa pemrograman untuk diadopsi membuat halaman website personal, media, organisasi hingga perusahaan. WP dapat diunduh gratis di wordpress.org untuk ditanam pada hosting berbayar.

Pernah mengisi pelatihan blog di Fakultas Dakwah IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry pada Juni 2011, tampilan layar adalah tampilan blog zulham.com

Ketika menyandang status bloger dulunya, aku pernah membuat blog personal dengan hosting dan domain berbayar. Masih menggunakan aplikasi WordPress, aku memindahkan tulisan di blog azuel.wordpress.com ke alamat blog baru zulham.com. Sekedar bocoran, nama azuel dulunya adalah nama brengsek yang jika kupikir ulang akan membuat aku mual setengah mati. Dengan alasan gengsi aku mengeluarkan sedikit modal lalu membuat alamat zulham.com.

Seiring perjalanan, zulham.com kemudian terabaikan, sekarat dan mati. Alamat domain itu sempat beralih ke pihak lain yang tidak kukenal dan kebetulan punya nama yang sama denganku. Kini zulham.com sudah dilelang menunggu penyewa. Aku tak berniat lagi mencaploknya. Selain zulham.com, aku pernah mengelola blog di alamat lain yang berbeda dalam rentang tahun 2009-2012, sebut saja zulham.guahira.com, bidjeh.nanggroe.com, zulhamyusuf.cc. Ada beberapa lainnya yang tidak lagi kuingat. Semuanya menggunakan aplikasi WordPress.

Mempelajari WordPress turut membawa berkah penghasilan. Sewaktu ada klien yang meminta bikin website, aku menerima dengan senang hati. WordPress mempermudah pengerjaan itu proyek. Bermodal sedikit paham bahasa pemrograman PHP dan HTML, aku sempat mengcoding beberapa template wordpress dari nol secara ototidak. Pernah, aku mencoding template berbasis website berita selama sebulan, gara-garanya aku tak masuk kuliah. Template yang kuberi nama Garitan 1.0 itu kemudian sempat mengudara di situs berita online pikiranmerdeka.co.

Buku Judul Di Belakang

Agar lebih singkat, kulanjut pada bagian yang luar biasa, ketika wabah steemit menyerang. Aku turut andil bikin akun Steemit. Tanpa terduga, geliat menulisku melecut tinggi sampai namaku muncul sebagai salah satu penulis “Judul di Belakang”. Buku kumpulan tulisan delapan stemian itu adalah puncak tertinggi kegiatan menulis yang kujajal sejak bangku sekolah menengah.

Belakangan, Steemit dan WordPress berjodoh. Perkawinan itu tentu saja dicomblangi salah satu stemian Martin Lees aka @howo bertajuk plugin Steempress. Dengan adanya ikatan tersebut, setiap postingan yang ditayangkan melalui WordPress akan muncul otomatis di Steemit. Tak tanggung-tanggung, perkawinan memang membawa rezeki. Adalah @howo melalui akun @steempress-io mengganjar setiap postingan di steemit melalui WordPress yang terpasang Steempress dengan vote cuma-cuma.

Para pegiat WordPress yang sudah berpengalaman tak melewatkan kesempatan baik itu, seperti Taufik Al Mubarak aka @acehpungo. Tak berlebihan rasanya mantan kolegaku di Harian Aceh itu, sedang di atas angin memanfaatkan Steempress. Preteli saja postingan akun steemitnya. @acehpungo yang menyarankan siapa saja agar memanfaatkan Steempress terseret juga ke telingaku. Ujarannya sempat terbukti saat aku mengawinkan website kanotbu.com dengan akun steemit @kanotbu.

Selanjutnya, akhir-akhir ini, wacana di grup aplikasi pesan melahirkan obrolan untuk menjajal peruntungan perkawinan WordPress dan Steemit. Lahirlah blog.kanotbu.com. Paling tidak, ruang baru ini dapat menjadi pelecut semangat kolektif para USSR (Usaha Sempena Stemian Reaksioner) Kanot Bu, yang sempat pudar untuk melahirkan konten-konten baru yang lebih beringas. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *