September di Banda Aceh

Jika sedang menganggur di Jawa di akhir tahun begini, akan lebih bijak jika berada di Aceh. Hujan, genangan memori dan suara kodok malam hari melimpahimu dengan orkestra.

Banda Aceh pada September begini memang selalu basah dan merayumu dengan gorengan pinggir jalan. Pulang dan teguk kopi terbaik dengan pisang raja goreng di Simpang Dodik. Dunia menjadi hangat manakala kunyahan terakhir kau telan.

Dalam hujan enggan mereda begini, membicarakan politik di tengah kepulan asap kopi pancung, adalah kebodohan tahunan. Karena pernah seorang politisi kutu lompat partai politik lokal yang kena sembur kopi di muka karena hendak kampanye di meja kopi. Kopi adalah netralitas dari keberpihakan politik kompetitor pemilu. Kau harus pulang dan kopi Aceh mulai seksi kembali setelah perang surut dari berita di halaman depan koran lokal.

Jika kau sedang menganggur di Jawa, jangan sungkan pulang. Banda Aceh terbuka untuk dibongkar seperti celengan. Siapa tahu ada sisa receh di sudut kekuasaan dan lingkar penguasa.

Kuyakin mereka tak enggan menderma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *