September di Banda Aceh

Jika sedang menganggur di Jawa di akhir tahun begini, akan lebih bijak jika berada di Aceh. Hujan, genangan memori dan suara kodok malam hari melimpahimu dengan orkestra.

Banda Aceh pada September begini memang selalu basah dan merayumu dengan gorengan pinggir jalan. Pulang dan teguk kopi terbaik dengan pisang raja goreng di Simpang Dodik. Dunia menjadi hangat manakala kunyahan terakhir kau telan.

Dalam hujan enggan mereda begini, membicarakan politik di tengah kepulan asap kopi pancung, adalah kebodohan tahunan. Karena pernah seorang politisi kutu lompat partai politik lokal yang kena sembur kopi di muka karena hendak kampanye di meja kopi. Kopi adalah netralitas dari keberpihakan politik kompetitor pemilu. Kau harus pulang dan kopi Aceh mulai seksi kembali setelah perang surut dari berita di halaman depan koran lokal.

Jika kau sedang menganggur di Jawa, jangan sungkan pulang. Banda Aceh terbuka untuk dibongkar seperti celengan. Siapa tahu ada sisa receh di sudut kekuasaan dan lingkar penguasa.

Kuyakin mereka tak enggan menderma.

Kota Slogan: 4 belum sehat, 5 sudah sempurna

@marxause

“Dile Madani jino Gemilang,
Kota Slogan galak-galak penguasa”

Saya kira, kota dan seisinya jinak dan seu-iet hanya dengan satu kata. Kita mungkin pulas dan enggan bangun dari Jum’at ke Jum’at saat zikir birokrat dilantunkan saban pagi. Di Taman Sari yang rimbun, Asma Allah mengguncang pilar-pilar balai kota dari pezikir yang enggan korup. Dari tukang sapu dan tenaga bakti yang terjebak iming-iming diangkat PNS.

Zikir saban Jum’at bagi birokrat tak jadi obat. Hanya hendak menyelubung kegagalan membangun. Zikir disempurnakan tergopoh-gopoh hingga kelak menjelang pilkada. Sementara 4 yang belum sehat macam sandang, papan, pangan dan holiday diterlantarkan sampai Banda Aceh renta.

Mural ini saya buat dalam rangka menyukseskan acara “the color of aceh” kerja sama Disbudpar Aceh dan teman-teman @akarimaji_ . Kebetulan berbarengan dengan PKA ke-7 . Acara mural ini berlansung di taman budaya aceh yang setahu saya jarang menghelat acara seni rupa luar ruangan.

 

Kopi Dini hari di Lageun Aceh Jaya

 

Kupikir, angin yang bertiup di sela bebatuan bukit-bukit kering sepanjang pantai pada dini hari itu, tak pernah berhenti dari sejak Adam dan Hawa diasingkan ke dunia. Seperti juga nafas mini bus sempati star yang dilarikan dari Blang Pidie malam itu, menabrak-nabrak angin yang berhembus searah dari laut yang menganga. Di belakang kedai makan lageun, ombak berteriak dalam gelap dan gemuruh tiada henti. Kopi kuaduk dalam hoyong luar biasa. Kubakar sebatang rokok sambil mengingat-ingat perjalanan malam melelahkan. Sopir yang ugal-ugalan, kursi penumpang yang tempat bersandarnya telah copot hingga jam yang bergerak lambat.

Tak ada yang menggembirakan perjalanan ke daerah barat-selatan di waktu malam. Selain minum kopi di Lageun. Kopi bubuk lokal yang aromanya khas dan gurih ampasnya buat ditelan. Rokok terasa menemukan jodohnya dini hari itu.

Aku tidak tahu alasan kenapa perjalanan ke daerah barat-selatan dilakukan pada malam hari. Sementara jalur pantai timur-utara Aceh kapan waktu siap mengantar penumpang hingga ke Medan. Bagiku, ini sangat menyiksa dan membatasi penumpang yang sesekali melakukan perjalanan ke barat-selatan untuk menikmati indahnya garis pantai Samudera Hindia. Pemerintah di kabupaten barat-selatan sepertinya suka gelap-gelapaan dalam memberlansungkan apa pun.

Nasi + B

“Abeh Breueh, Plot Lam APBA”

Pernyataan di atas adalah penggalan lirik lagu “Kanot Bu” yang diciptakan oleh saudara Reza Mustafa sekitar tahun 2008. Ketika itu, Komunitas Kanot Bu baru saja didirikan. Awalnya lagu tersebut hanya berbentuk puisi yang agak panjang. Fuady S Keulayu membuatnya menjadi lagu bernada agak kemelayu-melayuan. Dan kami sebagai penikmat lagu, tidak membantahnya. Lanjutkan membaca “Nasi + B”