Tentang Ratna Sarumpaet Dibisiki Setan; Konspirasi Kuda Troya atau Fans Young Lex?

Beberapa hari belakangan nama Ratna Sarumpaet kembali menjadi bahan perbincangan. Tapi kali ini bukan karena keberaniannya beradu pendapat dengan pejabat negara seperti yang pernah viral beberapa waktu yang lalu.  Juga bukan karena kelantangan ibu dari artis cantik Atiqah Hasiholan ini bicara soal pembunuhan Marsinah pada tahun 1993 oleh rezim orde baru. Ratna Sarumpaet disebut-sebut telah dibisiki setan sehingga melakukan sesuatu yang membuat dia dan sekalian koleganya dalam tim pemenangan Prabowo – Sandi malu.

Menurut kronologi  yang beredar versi wakil ketua Timses Prabowo – Sandi, Nanik S Deyang, pada mulanya Ratna Sarumpaet bersama dua orang berkebangsaan Malaysia dan Srilangka naik taksi menuju Bandara Husein Sastranegara Bandung. Mereka bertiga baru saja menghadiri sebuah konferensi internasional di kota tersebut pada 21 September lalu. Namun saat tiba di bandara, supir taksi kemudian menurunkan mereka di tempat yang agak gelap dan sepi.

Disitulah semuanya bermula. Entah kenapa, dua kolega Ratna Sarumpaet kemudian meninggalkan dirinya sendirian dalam gelap dan sepi untuk kemudian dipukuli hingga babak belur oleh tiga orang tak dikenal. Hal tersebut membuat Ratna Sarumpaet nyaris kehilangan kesadaran akibat penganiayaan yang dialaminya. Ianya kemudian di bopong oleh seorang supir taksi dan diturunkan di tepi jalan di kawasan Cimahi.

Butuh waktu hingga 10 hari sampai Ratna mampu mengatasi trauma yang di alaminya akibat kejadian tersebut dan kembali tampil di depan khalayak. Ratna, melalui Fadli Zon, kemudian menyampaikan hal yang baru saja di alaminya itu kepada Prabowo. Dan dalam sekejap, berita tersebut menyebar di kalangan tim pemenangan Prabowo-Sandi lengkap dengan foto wajah lebam Ratna Sarumpaet.

Rasa simpati dan dukungan kemudian mengalir deras kepada Ratna. Hal ini bisa terjadi mengingat Ratna adalah salah satu elit dalam jajaran tim pemenangan Prabowo – Sandi. Ia tercatat sebagai Juru Kampanye Nasional nomor urut 42 dalam SK tim pemenangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tersebut. Tak lupa, para politisi yang berada dalam barisan ini lantas serempak mengecam sana-sini demi membela koleganya yang teraniaya ini.

Salah satunya adalah Rachel Maryam. Melalui akun Twitternya @cumarachel, mantan selebriti yang kini meniti karir sebagai politisi ini mengecam pelaku yang (katanya) menganiaya Ratna.

Innalillahi bunda @RatnaSpaet semalam dipukuli sekelompok orang. Saat ini keadaan babak belur. Hei kalian beraninya sama ibu2! Apa kalian gak punya ibu? Lahir dari apa kalian?” tulis Rachel Maryam pada Senin, 1 Oktober lalu.

Dibisiki Setan

Selang sehari setelah beredar kabar penganiayaan dirinya, Ratna Sarumpaet mengaku bahwa lebam di sekujur wajahnya adalah karena bedah plastik yang dia jalani. Ianya membantah sendiri kabar penganiayaan yang dia alami dan mengatakan kabar tersebut adalah sebuah kebohongan belaka.

“Hanya cerita khayal. entah diberikan setan  mana yang dibisikkan ke saya dan berkembang seperti itu,” Ujar Ratna kepada awak media.

Sontak pengakuan Ratna tersebut membuat kaget sekalian orang. Bahkan Prabowo sendiri merasa harus menggelar jumpa pers untuk meminta maaf kepada rakyat Indonesia soal kebohongan yang dilakukan Ratna. Prabowo mengaku mempercayai apa yang dikatakan Ratna sebab ia mengenal sosok tersebut selama ini getol memperjuangkan hak-hak rakyat kecil.

“Di depan rakyat Indonesia saya minta maaf. Tapi Saya tidak merasa saya berbuat salah, bahwa Saya akui, bahwa saya agak grusak grusuk,” Tutur calon presiden dari Partai Gerindra itu.

Begitupula dengan Rachel Maryam. Setelah sehari sebelumnya sempat menulis cuitan yang mengecam pelaku penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet, Rachel kemudian kembali mencuitkan permohonan maaf terkait hal tersebut. “Innalillah wa inna ilaihi rojiun. Sandiwara apa ini?,” Cuitnya.

Siasat Kuda Troya

Memperhatikan perkembangan kabar hoax terkait Ratna Sarumpaet ini, saya menjadi ingat kisah tentang kuda troya. Itu adalah cerita tentang penaklukan kota Troya oleh tentara Yunani. Konon kota Troya telah 10 tahun dikepung namun tak kunjung bisa di taklukkan. Hingga akhirnya pasukan Yunani membangun patung kuda raksasa dari bahan kayu. Dan di dalam patung kuda raksasa tersebut, beberapa pasukan Yunani bersembunyi. Sedangkan sebagian lainnya berpura-pura berlayar pulang ke negeri asalnya.

Para penduduk Troya yang merasa telah menang perang kemudian menarik kuda kayu tersebut kedalam kota. Hingga pada tengah malam saat penduduk Troya sedang dibuai mimpi, para tentara Yunani itu kemudian menyelinap keluar dari patung kuda lantas membuka gerbang kota Troya. Hal itulah yang kemudian membuat kota Troya berhasil di taklukkan.

Kenapa saya kemudian mengaikan kabar hoax tersebut dengan kisah kuda Troya? Karena bagi saya adalah sesuatu yang aneh jika tokoh sekelas Ratna Sarumpaet secara sadar melakukan pembohongan publik seperti itu. Bagi saya, apa yang telah dilakukannya adalah sebuah bunuh diri politik. Pula bagi orang-orang yang kemudian ‘termakan’ berita palsu tersebut.

Apalagi jika mengingat seperti apa latar belakang Ratna sebagai aktivis HAM dan bagaimana sosok Prabowo Subianto dalam kacamata penegakan Hak Asasi Manusia. Maka dari itu dugaan konspirasi Kuda Troya kiranya semakin kuat adanya. Jika benar ini yang terjadi, maka saya melihat seorang Ratna Sarumpaet cukup sadar atas tindakan bunuh diri politik yang dilakukannya.

Lantas apa dampaknya? Silahkan perhatikan sendiri. Ditengah berita soal kubu petahana yang terus melakukan koordinasi penanganan gempa bumi dan tsunami di palu dan donggala, di sisi lain kubu Prabowo justru sibuk menyelamatkan muka. Soalnya hampir semua elit politik yang ada dalam barisannya turut serta menyebarkan Hoax made in bunda Ratna. Terlepas disengaja atau tidak, saya melihat apa yang dilakukan Ratna Sarumpaet merupakan sebuah pukulan telak di jantung pertahanan Koalisi Indonesia Adil dan Makmur.

Namun semua itu adalah pendapat pribadi saya. Teman-teman sekalian silahkan untuk sepakat atau berbeda pendapat dengan apa yang saya sampaikan di atas. Lagipula bisa saja apa yang dilakukan Ratna bukanlah strategi Kuda Troya, melainkan sebuah bukti bahwa ianya salah satu penggemar Young Lex. Sebab keduanya sama-sama pernah mengamalkan laku pura-pura teraniaya dihadapan warganet Indonesia. Sekali lagi, bisa saja!

Bandung, 04 Oktober 2018

 

Salam Manis

@senja.jingga

Politisi Asongan

img source

Bulan-bulan belakangan ini dan bisa dipastikan berbulan-bulan selanjutnya, hidup kita akan terusik dengan hiruk pikuk pesta politik. Tapi sebelum aku mulai, kutegaskan tulisan ini tidak bermaksud untuk mengarahkan pilihan rakan sekalian. Hanya kontemplasi pribadi atas kerja-kerja politik yang selama ini yang kujalani.

Lazim kita temukan di simpang-simpang jalan baik yang ada traffic light-nya ataupun tidak, para pedagang asongan berseliweran menjajakan dagangannya. Ada yang menenteng minuman ringan botolan, menawarkan tissu wajah, pula barang paling sederhana seperti rokok-permen-kwaci. Mereka ini beraksi menawarkan barang dagangan kepada kita-kita para pengguna jalan. Tak peduli siang atawa malam, para pengasong itu menghampiri satu demi satu pengendara, mencoba menjual apa saja yang mungkin dijual demi seperak-dua laba.

merujuk pada KBBI, asong atau mengasong adalah istilah yang berarti sebuah aktivitas menjual dengan cara menyodor-nyodorkan sesuatu (dengan harapan agar dibeli). Sedangkan pengasong sendiri berarti orang yang mengasong. Yaitu orang yang menjual dengan cara menyodor-nyodorkan sesuatu dan berharap kita akan membelinya.

Dalam setiap masa kampanye politik kita kerap kali mendengar istilah jualan kecap untuk menunjukkan perilaku tim sukses (timses) yang sedang mengkampanyekan calon jagoannya. Mereka ini dengan penuh percaya diri akan selalu berusaha meyakinkan kita bahwa kecap miliknya adalah kecap terbaik. Terbuat dari kedelai hitam pilihan yang dirawat seperti istri simpanan sendiri.

img source

Dalam beraksi, para timses ini dituntut untuk tidak ragu-ragu bertebal-tebal muka. Bahkan diyakini, keberhasilan seorang politisi memenangkan kontestasi politik elektoral sangat dipengaruhi oleh ketebalan muka timsesnya. Semakin tebal itu muka, semakin besar pula peluang calonnya keluar sebagai juara. Ketebalan muka itu tentu saja berbading lurus dengan ketebalan dompet si calon. Semakin tebal dompet, maka semakin banyak jenis kosmetik yang di-siliek untuk mempertebal muka timsesnya. Dengan begitu, semakin mudah si politisi meraih kuasa.

Maka dari itu, semakin kesini aku pribadi menangkap kesan semakin banyak politisi yang berfikir persetan dengan politik gagasan. Tak ada guna visi-misi dan rencana kerja berpuluh halaman. Yang penting ianya punya timses yang tebal muka lagi militan.

Perilaku timses yang dengan muka tebal menyodor-nyodorkan calon jagoannya ini kurang lebih mirip seperti prilaku pedagang asongan. Dan seperti halnya pedagang asongan, timses ini juga berharap seperak-dua laba alih-alih ingin memperbaiki kondisi berbangsa. Tak peduli merk kecapnya apa, asal sanggup memberi biaya kosmetik, maka itu kecap akan di asong dengan segenap ketebalan muka.

Yang lebih parah dari itu tentu saja politisi asongan. Mereka adalah yang tanpa malu menyodor-nyodorkan dirinya sendiri untuk dipilih oleh masyarakat. Lewat konten-konten di media sosial pula dari meja ke meja di kedai kopi, ianya dengan percaya diri menjajakan dirinya sendiri. Sekali lagi, persetan politik gagasan. Yang penting ianya tembus ke gedung dewan atawa menjadi kepala pemerintahan. Aku tak tahu harus berkomentar apa untuk perilaku begini rupa. Namun aku bersyukur, seumur-umur belum pernah mendapat teman politisi asongan.

Teman-teman, kita semua tahu bahwa sebentar lagi pemilu. Aku harap kita waspada sebab politisi asongan ada dimana-mana. Nama atau fotonya ada disetiap lembar surat suara yang akan disodori petugas pemungutan suara kepada kita nantinya. Tak peduli itu pemilihan DPR, DPD, atawa Presiden sekalipun, para politisi asongan ini siap sedia nyodor-nyodorin kecapnya sendiri kepada kita. Oleh karena itu, jangan salah pilih kecap. Teliti sebelum membeli. Dan pastikan ada label halal dari MUI.

img source

 

Bandung, 16 Agustus 2018

 

Salam Manis

Bink Fernanda