Tentang Dinding Ratapan Para Mantan; Seingatku Saja.

Sore itu #bivakemperoom, markas Komunitas Kanot Bu sedang ramai. Aku yang baru saja terjaga langsung menuju perigi untuk membasuh diri. Kulihat Alam (@only.home) sedang sibuk dengan aktivitasnya menggergaji beberapa bilah kayu. Sedangkan si Agus, tak ku ingat sedang apa. Soalnya ini kejadian sudah cukup lama. Jujur saja aku lupa tanggal persisnya berapa tapi yang jelas pada suatu hari di akhir bulan Oktober 2016 silam.

Sore itu teman-teman di Kanot Bu memang sedang mengerjakan proyek dekorasi kegiatan Anti Corruption Youth Camp yang di selenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi. Juga sekalian mengerjakan beberapa item dekorasi untuk acara Aceh Film Festival 2016. Sebahagian besar material yang kami gunakan berbahan kayu. Jadi wajar saja saat itu banyak sekali bilah kayu dan triplek sisa yang bertebaran dimana-mana. Melimpahnya kayu itu turut didukung degan adanya si Agus.  Yaitu “Agus yang mengingatkan kita pada kayu-kayu”. Soalnya untuk urusan perkayuan, saat itu kami percaya dia ahlinya.

Ditengah kesibukan ‘berkayu’ itulah, Dinding Ratapan Para Mantan hadir di Bivak Emperoom secara tidak sengaja. Itu sebenarnya adalah dinding kosong tak berplaster yang terletak disebelah selatan halaman belakang bivak. Jadi masih berupa dinding yang menunjukkan susunan batu bata. Dan di halaman belakang tersebut, aktivitas perkayuan itu dilaksanakan. Dari Idrus Bin Harun (@marxause), pertama sekali muncul itu gagasan.

Waktu itu blio mengatakan bahwa dinding tersebut sepertinya menarik jika ditempeli papan promosi jasa yang biasa kita temukan di pinggir-pinggir jalan. Misalnya jasa tambal ban, tukang talang air atawa jasa sedot tinja. Namun apa daya, mengumpulkan hal-hal seperti itu tentu bukan kerja sederhana. Mengingat banyak sekali lembaran triplek bekas, kamipun berinisiatif untuk membuat sendiri saja.

Tulisan pertama yang terpacak di tembok itu adalah Dilarang Sendirian yang ditulis Alam pada sebilah papan. Tulisan itu dibuatnya sebab kesal dengan prilaku kawan-kawan paska ditemukannya kata sandi jaringan Wi-Fi milik kantor sebelah. Waktu itu memang seringkali kita menemukan orang-orang yang rela ‘nyepi’ untuk mengakses itu Wi-fi. Soalnya memang jaringan internet gratisan itu hanya bisa di akses dari beberapa titik saja.

Aku sendiri tak paham bagaimana pada akhirnya makna kalimat Dilarang Sendirian itu kemudian mengarah kepada soal asmara. Seingatku, @marxause kemudian ikut menempel selembar seng bekas berbentuk lingkaran yang ditulisi kalimat Tambal Hati Yang Terkoyak. Lalu susul-menyusul rangkaian kata lain yang disumbangkan masing-masing orang serupa Saba kanda, kawen koen keu lomba, juga Jogingpagi: Jomblo Nungging Pada Gila,  atau kalimat Patah hati terbuat dari pelukan yang dilepas dengan terpaksa. Seperti dendam, luka harus dilupakan. Hampir semua kata-kata tersebut ditulis pada media triplek bekas yang memang bertebaran di sana waktu itu.

Semakin hari semakin banyak saja untaian kalimat atau sekedar quote singkat yang terpacak di sana. Warna-warni nya yang cerah membuatnya sempat menjadi tempat primadona untuk berswafoto oleh beberapa orang yang datang berkunjung ke bivak emperoom. Bahkan, foto di atas itu kuambil dari postingan Instagram milik aktor pemeran Presiden Joko Widodo dalam Film Jokowi yang dirilis 2013 lalu; Rifnu Wikana. Tapi sekarang, Dinding Ratapan itu sudah tidak ada. Semua tulisan di sana sudah dicabut karena alasan tertentu. Kalau kamu mau tahu, datang kesini biar aku cerita. Yang jelas siapkan saja urat ketawa. Haha… Sampai jumpa!

Dinding Ratapan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *