Wisata Berbasis Anak Durhaka

Pada suatu hari yang entah kenapa lupa dicatat tanggal dan tahunnya dalam sejarah, seorang lelaki marah lalu menendang perahu yang sedang dibikinnya. Perahu itu kemudian terbang dan jatuh dalam posisi terbalik. Aku tak mampu membayangkan sebesar apa perahu itu dan seperti apa ukuran tubuh si penendang, tapi yang jelas itu adalah awal mula terciptanya gunung Tangkuban Perahu yang tertera dalam dongeng Sangkuriang.

Siapa itu Sangkuriang? Menurutku ia adalah seorang anak durhaka karena bermaksud mengawini ibunya. Sangkuriang lahir dari rahim Dayang Sumbi – perempuan cantik yang berbapak seorang raja dan beribu seekor babi. Bagaimana ceritanya jadi seperti itu, silahkan kau cari tahu sendiri. Jika ku urai terlalu panjang, nanti malah datang si @cheetah celaka itu kesini. Sangkuriang memiliki bapak seekor binatang, yaitu seekor anjing bernama Tumang yang harus dinikahi Dayang Sumbi akibat ianya terlalu malas. Malas mengambil torak yang terjatuh saat ia sedang menenun lalu berjanji menikahi siapapun yang mau membantu mengambil torak itu tadi. Dan terpaksa ia menikahi Tumang karena si anjing itulah yang kemudian mengambilkannya.

Pada intinya setelah berbagai macam drama, Sangkuriang pulang dari mengembara dan menjumpai seorang gadis cantik jelita. Ia lantas mengajak gadis tersebut untuk menikah. Oleh karena ketampanan dan perawakannya yang gagah perkasa, gadis itu menerima pinangan Sangkuriang. Saat itu ia belum mengetahui jika gadis tersebut adalah Dayang Sumbi yang jelitanya telah abadi. Itu sebab Dayang Sumbi bertapa dan hanya makan lalap. Dayang Sumbi juga tidak tahu jika pemuda itu adalah anak kandungnya sendiri. Tapi pada suatu hari saat sedang mengencangkan ikat kepala Sangkuriang, Dayang Sumbi terkejut melihat tanda yang ada di kepala dan segera menyadari pemuda itu adalah anak kandungnya.

Oleh karena itu, Dayang Sumbi mencari cara untuk menggagalkan rencana pernikahan mereka. Jadilah ia memberi syarat kepada Sangkuriang untuk membendung sungai Citarum dan membuat sebuah perahu raksasa sebagai syarat pernikahan mereka. Sangkuriang menyanggupi syarat itu dan mengajak serta para makhluk halus untuk membantunya. Ketika semuanya hampir selesai, Dayang Sumbi menggagalkannya dengan membentang kain hasil tenunannya sendiri di ufuk timur sembari memukul alu ke lesung berkali-kali. Itu membuat para makhluk halus yang membantu Sangkuriang lari terbirit-birit karena mengira hari telah pagi. Padahal itu hanyalah ulah Dayang Sumbi yang tak mau dinikahi anak sendiri.

Foto: Bukan Dayang Sumbi.

Jadilah aku kesana pada hari itu, ke gunung Tangkuban Perahu. Ke situs wisata berbasis anak durhaka. Yang hari ini bisa kita nikmati karena dahulu kala ada seorang lelaki yang ingin menikahi ibunya. Cuacanya dingin dan nyaris setiap kelok jalan menuju kesitu diselimuti kabut tebal yang menghadirkan suasana yang damai.

Bagi kalian yang sedang atau akan berkunjung ke kota Bandung, aku sarankan untuk datang ke Tangkuban Perahu. Tiket masuknya relatif murah, perkepala hanya sekitar dua puluh ribu. Disana kalian bisa menikmati keindahan kawah gunung berapi tanpa harus berlelah-lelah mendaki. Atau jika kalian adalah perempuan dan ingin awet muda, kalian bisa kesana untuk mencicipi daun dari tumbuhan Manarasa. Itu adalah pohon yang daunnya menjadi lalapan Dayang Sumbi. Daun yang membuat ia tetap awet muda sehingga membuat anaknya sendiri jatuh cinta.

Foto: Daun Manarasa. Memakan pucuk daunnya konon bisa membuat awet muda.

Berada di gunung Tangkuban Perahu saat itu juga membuatku berfikir betapa tidak kreatifnya dongeng tentang anak durhaka di Indonesia. Ini soal nama si anak durhaka yang entah kenapa harus selalu berakhiran ‘ang. Selain Sangkuriang, kita juga pasti mengenal si Malin Kundang dari Padang. Juga ada Amat Ramanyang di teluk Lamuri, Aceh Besar. Dan entah memang disengaja atau tidak, peninggalan ketiganya sekarang dijadikan tempat wisata. Tempat wisata berbasis anak durhaka lebih tepatnya.

Lalu apa aku ke Tangkuban Perahu untuk berwisata? Bukan. Atau untuk makan daun Manarasa? Itu juga bukan. Lagian, buat apa awet muda? Kan umur itu cuma soal angka, muda itu soal jiwa. Kalau begitu buat apa? Ya buat kerja. Kerja apa? Kerja mah apa aja, yang penting cape”, Sabda Imam Besar The Panas Dalam pada suatu ketika.

Foto: Nyapu jalan agar terbebas dari kuman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *